Monday, April 7, 2014

Mengakui Dosa & Kesalahan Kita | Confessing Our Sins & Iniquities

Indo

Pembacaan Alkitab: Mazmur 31-32

Daud menggubah sebuah mazmur yang isinya mengajak kita untuk mengaku dosa-dosa kita kepada Tuhan dan untuk bersyukur kepada Tuhan karena dosa kita telah diampuni, kesalahan kita tidak diperhitungkan oleh Tuhan. Terkadang sebagai orang percaya kita memiliki suatu asumsi yang berbahaya bagi kita, walaupun hal itu benar. Kita selalu berasumsi bahwa Tuhan pasti mengampuni dan telah menghapus dosa kita. Hal ini sangat benar dan memang kita perlu percaya bahwa Tuhan telah mengampuni dosa kita. Tetapi seringkali kita lupa bagian kita dalam hal ini, yakni untuk kita mengaku akan dosa-dosa dan kesalahan kita di hadapan Tuhan. Bila kita tidak pernah mengaku akan dosa kita, maka kita sebenarnya tidak pernah mengaku bahwa kita telah berdosa, bahwa kita telah berontak kepada Tuhan dan tidak taat kepada-Nya. Misalnya, bila kita telah berbohong, kita hanya berkata, "Tuhan ampuni dosaku". Atau bila kita telah melakukan percabulan, kita hanya berkata, "Tuhan ampuni dosaku". Dosa apa yang kita akui? Dosa apa yang Tuhan ampuni? Bila kita sendiri tidak pernah mengaku dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita satu per satu, maka kita sebenarnya belum mengaku bahwa kita telah berdosa atau melakukan kesalahan, yakni kita tidak merasa bahwa kita melakukan hal yang melanggar Firman Tuhan atau kita telah tidak taat kepada Tuhan. Dan karena kita tidak merasa kita telah melakukan dosa atau kesalahan, maka kita sebenarnya belum bertobat dan juga dapat dikatakan bahwa ada kesombongan dalam diri kita. Jadi, biarlah kita periksa kehidupan kita, periksa benar-benar ke dalam lubuk hati dan pikiran kita. Biarlah kita benar-benar akui dengan mulut satu per satu dosa dan kesalahan yang kita telah lakukan di hadapan Tuhan, dan setelah kita mengakuinya maka kita melepaskannya di hadapan Tuhan dan itu diampuni-Nya, dibuang-Nya dan tidak diperhitungkan oleh Tuhan.


English

Bible Reading: Psalms 31-32

David made a psalm that encourages us to confess our sins to the Lord and to give thanks because our sins has been forgiven and our iniquities are not counted by the Lord. Sometimes as believers we have one assumption/expectation that is dangerous for us, even thoug it is true. We always assume/expect the Lord to forgive and wipe clean our iniquities. This is true and we need to believe that the Lord has forgiven us of our sins. But many times we forget about our part in this, that we need to confess of our sins and iniquities before the Lord. If we never confesses to our sisn, then we have never confess that we have done those sins, that we have rebelled against God and disobeyed God. For example, if we lied and we only say, "Lord forgive me". Or if we have committed adultery and only said, "Lord forgive me". What sin did we acknowledge and confessed to? What sin did the Lord forgive? If we, ourselves, never admit and confess to our sins and iniquities one by one, then we have not really admit that we have sinned or did something wrong, meaning that we did not feel that we have done the wrong thing, things that go against the Word of God or that we have disobeyed God. And because we do not feel that we have sinned, then we have not really repented and it can be said that we are also prideful. So, let us check our lives, let us really introspect our hearts and minds. Let us really confess with our mouths, one by one, of the sins and iniquities we have done before the Lord, and after we have confessed them, then we are letting them go to God's hands and they are forgiven, thrown away and no longer counted by the Lord.

Sunday, April 6, 2014

Tuhan Perduli Akan Pemerintah | The Lord Cares About The Government

Indo

Pembacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 23

Di dalam kehidupan Paulus, di mana ia dipenjara, disidang dan dipindahkan dari satu sidang ke sidang lain, itu semua adalah rencana Tuhan agar Paulus dapat bersaksi akan Tuhan kepada para pemimpin bangsa, yakni orang yang memiliki jabatan yang tinggi dan bekerja bagi pemerintah. Dari sini kita dapat melihat bahwa Tuhan bukan hanya perduli akan mereka yang lemah dan rakyat jelata atau orang Yahudi saja. Tetapi Tuhan juga ingin agar para pejabat, orang-orang pemerintahan juga mengenal-Nya dan dengan demikian mereka yang memimpin negeri mengenal kebenaran Tuhan dan dapat memimpin sesuai dengan moral dan kebenaran Tuhan. Dari sini kita juga dapat melihat bahwa Tuhan ingin menyelamatkan semua orang, tidak perduli posisi mereka seperti apa, tidak perduli ras dan kebangsaan mereka apa. Lebih dari itu, hal ini juga menunjukkan bagaimana Tuhan ingin agar pemerintahan di dunia ini dapat belajar dari kasih, kebenaran dan karakter Tuhan untuk memimpin negara dan bangsa, sehingga bangsa-bangsa berjalan menuju arah yang benar, yang penuh dengan kasih, murah hati dan sebagainya, seperti Tuhan. Dan bagian kita, adalah untuk juga berdoa bagi bangsa-bangsa, bagi pemerintahan di manapun kita tinggal. Walaupun kita tidak memiliki kesempatan seperti Paulus untuk bersaksi di sidang dan di hadapan para pejabat dan orang pemerintahan, kita tetap dapat lakukan bagian kita dengan berdoa bagi bangsa dan pemerintah, bersaksi kepada siapapun yang kita temui, sebab Tuhan mengasihi semua orang.


English

Bible Reading: Acts 23

In the life of Paul, where he was jailed, judged and moved from one court to another, all of them are part of God's plan so that Paul was able to testify about the Lord to the leaders of the countries, people who have high rank and are government officials. Here we can see that the Lord do not only care for those who are weak and commoners, or just the Jews. But the Lord also wants all government officials, the high rank officials to know Him such that they who lead the country knows the righteousness of God and able to lead according to the morale and righteousness of God. From this we can also see that the Lord wants to save all mankind, it does not matter what kind of position they have, what kind of race or nations they are from. More over, this also shows how the Lord wants the government in this world to learn the love, righteousness and characters of God to lead nations and countries, such that the nations would walk to the right path that is full of love, mercy and so on, just like the Lord. And our part is, for us to also pray for the nations, for the government where ever we live. Even though we may not get the chance like Paul to speak and testify in court and in front of high ranking government officials, we can still do our part to pray for nations and government, to testify to anyone we meet, because the Lord loves all mankind.

Saturday, April 5, 2014

Perkenanan Untuk Seumur Hidup | Favour For Life

Indo

Pembacaan Alkitab: Mazmur 29-30

Ada satu pepatah dari Daud yang sangatlah menarik, ia berkata bahwa murka Tuhan hanya sesaat, tetapi seumur hidup Ia murah hati. Di dalam terjemahan New King James Version, dikatakan bahwa, murka-Nya hanya sesaat, tetapi perkenanan-Nya untuk seumur hidup. Dalam satu pepatah ini kita dapat belajar bahwa Tuhan walaupun penuh dengan kasih, Ia juga dapat murka. Kita banyak melihat contohnya di dalam perjanjian lama, di mana bangsa Israel banyak melakukan hal-hal yang membuat Tuhan murka. Hal-hal yang Israel lakukan, yang membuat Tuhan murka adalah dengan sengaja memilih ntuk tidak taat kepada Tuhan berkali-kali walaupun mereka telah ditegur dalam hal yang sama. Tetapi dalam semua itu, kita juga dapat melihat bahwa perkenanan Tuhan atas Israel benar-benar untuk seumur hidup, sebab Tuhan tetap setia dan memilih Israel sebagai bangsa yang di mana Juru Selamat lahir ke dunia. Dan kita dapat melihat berkat yang selalu mengikuti Israel. Inilah salah satu dari karakter Tuhan yang dapat kita pelajari. Yakni bahwa jika kita marah, biarlah itu hanya sesaat, seperti tertulis dalam perjanjian baru, bila kita marah, janganlah berdosa. Yakni, janganlah biarkan kemarahan itu mengerogoti hidup kita sehingga kita menjadi pahit, menjadi benci dan akhirnya berdosa karena kita tidak ada lagi kasih. Tetapi biarlah kita memiliki kasih, perkenanan yang kekal terhadap orang-orang. Hal ini juga berarti bahwa kita perlu belajar untuk selalu memberikan kesempatan untuk orang berubah, sama seperti Tuhan memberikan Israel kesempatan untuk berubah sepanjang hidup mereka, dan juga Tuhan memberikan kepada kita kesempatan untuk berubah sepanjang hidup kita. Jadi, biarlah kita memiliki karakter-karakter Tuhan. Walau tidak dapat kita miliki dalam sekejap, tetapi dengan kasih Tuhan dalam hidup kita, dengan kekuatan dari Roh Kudus, maka kita akan diubahkan langkah demi langkah sehingga kita makin seperti Tuhan.


English

Bible Reading: Psalms 29-30

There is one phrase that David said which is interesting, he said that the anger of God is just for a moment, but His favour is for life. In this one phrase, we can learn that even though God is full of love, He can also be angry. We see a lot of examples in the Old Testament, where the Israelites did a lof things that arouses the anger of GOd. The things that the Israelites did was to intentionally choose to disobey God even though they have been rebuked and warned about the same thing many times. ut in all of this, we can also see that the favour of the Lord over Israel really is for life, because the Lord kept being faithful and chose Israel as the nation where the Messiah was born in. And we can see the blessings that always follow the Israelites. This is one of the characters that we can learn from God. If we are angry, let it be only for a moment, as it is written in the New Testament, if we are angry do not sin. That is, do not let that anger rots our lives such that we become bitter, hateful and sinned because we no longer have that love. But let us have that love and eternal favour towards others. This also means that we need to always give chances for people to change, just like the Lord gave Israelites chances to change for their whole lives, and the Lord also gave us chances to change for the whole of our lives. So, let us have these characters of God. Even though we cannot have them in a split of a second, but with the love of God in our lives, with the strength of Holy Spirit, then we can be changed step by step until we are more like the Lord.

Friday, April 4, 2014

Membongkar Siasat Iblis & Memuliakan Tuhan | Revealing The Devil's Tricks & Glorifying The Lord

Indo

Pembacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 22

Setiap dari kita memiliki cerita masing-masing. Cerita akan bagaimana Tuhan mengubah hidup kita, seperti cerita Paulus. Paulus memakai cerita hidupnya untuk bersaksi akan Tuhan. Tetapi untuk kita dapat memuliakan Tuhan dan dapat bersaksi dengan benar, kita perlu memiliki kerendahan hati dalam menceritakannya dan juga perlu untuk tidak malu membuka keburukan atau kesalahan kita sebelum kita ditemukan oleh Tuhan Yesus Kristus. Seringkali rasa malu akan apa yang pernah kita lakukan atau akan kesalahan kita, di mana kita merasa bahwa orang-orang akan tahu rahasia kita dan orang-orang akan melihat kita dengan pandangan yang berbeda atau bahkan merendahkan karena kesalahan dan dosa kita. Dan inilah yang salah satu hal yang paling sering membuat kita malu untuk bersaksi, atau tidak berani untuk bersaksi. Tetapi lihatlah Paulus, ia dengan beraninya bersaksi, menceritakan kehidupannya sebelum Yesus dan sesudah Yesus, ia tidak malu, ia tidak perduli akan pandangan orang lain. Biarlah kita juga belajar seperti Paulus. Yang perlu kita ingat adalah ketika kita bersaksi, ketika kita membukan kehidupan kita akan kesalahan dan dosa yang lampau, kita bukan mempermalukan diri kita sendiri, tetapi kita membongkar dan mempermalukan iblis, perbuatannya dan tipu muslihatnya. Dengan membuka kehidupan kita seperti Paulus, kita juga menunjukkan kepada orang-orang bahwa sebagai manusia kita memang lemah dan butuh anug'rah Tuhan. Dengan begitu kita memuliakan Tuhan melalui kesaksian hidup kita, sebab kita membeberkan tipu muslihat iblis, kita mengaku bahwa kita lemah dan butuh Tuhan dan kita menunjukkan bahwa Tuhanlah pemeran utama di dalam semua ini, bahwa Tuhanlah sang penyelamat kita. Karena sekarang kita telah tahu bahwa ini adalah cara bagaimana kita dapat memuliakan Tuhan melalui kesaksian hidup kita, biarlah kita yang mendengar juga tidak menghakimi orang yang bersaksi, tetapi melihat orang itu sebagai orang yang diubahkan Tuhan dan masih terus diubahkan. Jadi, biarlah kita buang segala rasa malu yang justru menjadi perangkap bagi kita untuk tidak dapat memuliakan Tuhan. Biarlah kita dengan berani menceritakan akan kuasa tangan Tuhan yang mengubahkan kehidupan kita.


English

Bible Reading: Acts 22

Every one of us has our own story to tell. Stories of how the Lord changed our lives, like Paul's story. Paul used his life story to testify of the Lord. But for us to be able to glorify the Lord and able to testify openly, we need to have humility in sharing it and alos need not be ashamed to reveal all our weaknesses or iniquities before we were found by the Lord Jesus Christ. Many times we have that shameful feeling of what we have done, of our iniquities, where we feel that people will know our secrets and they will see us in a different light or even look down on us because of our sin and iniquities. And this is one of the common thing that hinders us from testifying, whether we are ashamed or afraid. But look at Paul, he testified with courage, told of his story before and after Jesus, he was not ashamed, he did not care of other's views. Let us learn from Paul. What we need to remember is that when we testify, when we open up our lives of our old iniquities and sins, we are not putting ourselves to shame, but we are revealing the devil's trick, tactics, deceits and putting the devil to shame. By opening our lives like Paul, we are also showing others that as human we are weak and in need of God's grace. That way we are glorifying the Lord through our life testimony, because we reveal the devils tricks, confess we are weak and need God and we show that God is the main actor in all of these, that the Lord is our hero. Now that we know this is how we can glorify the Lord through our life testimony, let us also not judge others who testify, but look at that person as someone who are changed and continually being changed by the Lord. So, let us throw away all of our shame that actually became a trap for us to be unable to glorify the Lord. Let us share with courage of the power of God who changed our lives.

Thursday, April 3, 2014

Kehidupan Yang Mengagumi Tuhan | A Life That Adores The Lord

Indo

Pembacaan Alkitab: Mazmur 26-28

Sebagaimana adanya dan sebagaimana Daud mengalami Tuhan dalam hidupnya, ia menguraikannya dalam nyanyian. Daud mengalami Tuhan sebagai pelindungnya, sebagai perisainya, sebagai kota bentengnya, di mana Daud merasa aman, merasa terlindungi dan tidak perlu takut akan musuh-musuhnya. Dan melihat apa yang Daud katakan dalam mazmur-mazmurnya, kita dapat melihat betapa besarnya iman dan pecaya Daud kepada Tuhan. Dari mazmur Daud kita juga dapat melihat betapa luar biasanya Tuhan, betapa besarnya kekaguman Daud akan Tuhan dan itu membuat kita ingin mengalami apa yang Daud alami bersama Tuhan. Begitulah juga seharusnya kesaksian hidup kita, yakni kesaksian hidup yang menarik hati orang-orang untuk juga mau mengalami apa yang kita alami bersama dengan Tuhan. Dengan begitu kita memuliakan Tuhan melalui kehidupan kita. Jadi, biarlah kita alami Tuhan dalam hidup kita, biarlah kita beritakan dan ceritakan akan kebesaran Tuhan dan akan betapa besarnya iman, percaya dan kekaguman kita akan Tuhan. Sebab jika kita sangat terkagum-kagum akan Tuhan sehingga kita selalu berbicara tentang-Nya, maka orang-orang juga akan mulai tertarik untuk juga mau tahu dengan mata kepala mereka sendiri akan betapa besar dan agungnya Tuhan yang kita bicarakan ini.


English

Bible Reading: Psalms 26-28

As David experienced the Lord in his life, he expressed it in psalms. David experienced the Lord as his protector, his shield, his refuge, where David felt safe, protected and no longer need to be afraid of his enemies. And based on what David said in his psalms, we can see how great is is faith and trust in the Lord. From David's psalms we can also see how amazing the Lord is, how great David's adoration to the Lord and that makes us want to experience what David experienced with the Lord. And so should our life testimonies be, they should be testimonies that attracts people to also want to experience the what we experienced with the Lord. That way, we are florifying the Lord through our lives. So, let us experience the Lord in our lives, let us share and tell of the greatness of God and how great our faith, trust and adoration towards the Lord. Because if we are so amazed and have so much adoration towards the Lord such that we always talk about Him, then others would start to be interested to see for themselves of how great and majestic the Lord that we always talk about.

Wednesday, April 2, 2014

Hidup Bukan Dari Daftar Yang Boleh Dan Tidak Boleh | Life Is Not Lived Through Do And Don'ts List

Indo

Pembacaan Alkitab: Mazmur 23-25

Kita semua tahu dan pernah dengar bahwa kita perlu untuk memiliki sifat-sifat, karakter-karakter yang ilahi. Misalnya dalam mazmur Daud kita lihat beberapa karakter-karakter seperti berserah kepada Tuhan, bersih tangannya, murni hatinya, tidak menipu, tidak bersumpah palsu, mencari wajah Tuhan, menantikan Tuhan, berjalan di dalam kebenaran Tuhan dan sebagainya. Tetapi seringkali juga semua ini hanyalah menjadi daftar akan apa yang harus kita lakukan dan yang harus kita hindari. Dan ini dapat menjadi hal yang sangat melelahkan, sebab kita hanya hidup mencoba memenuhi apa yang boleh dan apa yang tidak. Bla demikian, maka kita tidak berbeda dengan orang Farisi yang tidak percaya akan anugrah Tuhan, yang hidup hanya untuk melakukan apa yang boleh dan apa yang tidak, sehingga mereka menjadi sangat kaku dalam peraturan. Sedangkan bila kita perhatikan dengan seksama akan apa yang Tuhan katakan dari awal, Tuhan ingin memiliki hubungan dengan kita, ingin kita memiliki hubungan dengan sesama kita dan Tuhan juga ada di tengah-tengah kita dan sesama kita (komunitas). Dengan kita memiliki hubungan dengan Tuhan, maka kitapun akan diubahkan dari dalam dan itu akan keluar memancar dari tingkah laku, perkataan, cara pandang, sikap dan karakter kita yang akan dirasakan oleh sesama kita. Dengan begitu kita tidak lagi hidup mengikuti daftar akan apa yang boleh dan tidak, tetapi dalam hati kita kita tahu bahwa hal-hal yang memang tidak berkenan di hadapan Tuhan, tidak akan memberikan damai dan kepuasan di hati kita, tetapi hal-hal yang Tuhan suka itu akan memberikan kita damai dan kepuasan. Kita juga akan mulai berpikir akan apa yang Yesus akan lakukan bila Ia ada di posisi kita dan secara otomatis kita akan merubah kelakuan, perkataan, sudut pandang, sikap dan karakter kita. Inilah hidup yang Tuhan inginkan, bukan hidup yang terkekang oleh hal-hal yang boleh dan tidak boleh, tetapi hidup yang bebas di dalam Tuhan, yang diubahkan oleh kasih dan kebenaran Tuhan sehingga kita melakukannya dari lubuk hati kita.


English

Bible Reading: Psalms 23-25

We all know and have heard that we need to have holy attitudes and characters. For example, in the psalms of David there are mentioned several characters such as surrendering to the Lord, clean hands, pure hearts, no deceit, no false testimony, seeking the Lord's face, waiting on the Lord, walking in the truth of God and so on. But many times all of these just became a list of dos and don'ts that we have to follow. And this can be a tiring thing to do, because we only live to try to fulfil that do and don'ts list. If so, then our lives are no different than the Pharisees who did not believe in the grace of God, whose lives are only to fulfil what is allowed and what is not allowed, such that they became very rigid set by rules. While if we look carefully at what the Lord is actually saying since the beginning, the Lord wants to have relationship with us, wants us to have relationship with others and the Lord is also present in the midst of us and others (community). By us having that relationship with the Lord, then we are changed from the inside out and it will bwe reflected through our actions, words, views, attitudes and characters that is seen and experienced by others around us. That way, we are no longer living a life that follows the do and don'ts list anymore, but in our hearts we know there things that does not please God and it will not give us that peace and satisfaction, but things that pleases the Lord will bring us peace and satisfaction. We would also start to think of what Jesus would do if He were in our situation and automatically we would be changed in action, words, views, attitudes and character. This is the life that God wants, not a life that is bounded by set of rules of do and don'ts, but al ife that is free in the Lord, a life that is changed by love and righteousness of God such that we do things from the bottom of our hearts.

Tuesday, April 1, 2014

Tidak Menghakimi Keputusan Orang | So Not Judge Other's Decision

Indo

Pembacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 21

Dalam perjalanan Paulus, ia diperingati oleh Roh Kudus melalui orang-orang di sekitarnya akan penderitaan yang akan ia alami. Hal in bukanlah pertama kalinya didengar oleh Paulus, sebab pada waktu pertama kali ia bertemu dengan Tuhan dan bertobat, Tuhan sudah memberithaukan kepadanya bahwa ia akan mengalami penderitaan karena nama Tuhan. Paulus tetap mengikuti Tuhan walaupun ia tahu akan hal ini. Dan ketika Tuhan mengingatkannya melalui orang-orang di sekitarnya, banyak orang yang menasihati Paulus agar ia tidak pergi ke Yerusalem sehingga ia tidak ditangkap dan mengalami penderitaan itu. Tetapi Paulus tahu bagiannya dan tahu kehendak Allah, sehingga ia meneguhkan orang-orang bahwa ia rela mati bagi Tuhan. Yang perlu kita perhatikan di sini adalah respon dari orang-orang di sekitar Paulus ketika ia berkata bahwa ia rela mati, sebab mereka merelakan Paulus pergi dan berkata, "Jadilah kehendak Tuhan". Sedangkan bila hal seperti Paulus terjadi di tengah-tengah kita, banyak dari kita yang mungkin tidak akan meresponi Paulus demikian. Banyak dari kita yang akan menghakimi Paulus dan menegur Paulus dengan berbagai macam pengertian. Kita dapat berkata bahwa karena sudah diperingati, maka perlu untuk menghindari. Kita dapat juga berkata bahwa Paulus keras kepala dan tidak mau turut akan apa yang telah diperingati. Kita dapat berkata bahwa Paulus tidak bijak, dan terlalu berambisi dan sebagainya. Tetapi orang-orang di sekitar Paulu mengenal pelayanannya, kehidupannya dan juga bagiannya, sehingga mereka dapat meresponi Paulus dengan benar. Bukannya menjatuhkan, justru mereka mendukung Paulus. Terkadang kita dapat menyalah-artikan nubuat yang datang bila kita tidak mengenal kehidupan orang yang dinubuati itu dengan baik. Terkadang juga kita terlalu mudah memakai logika manusia untuk mencari solusi agar kita aman, hal ini bukannya tidak baik, tetapi kadang kita tidak dapat memakai logika manusia untuk mengerti rencana Tuhan. Yang terpenting dari respon kita terhadap siapapun yang ingin melakukan hal-hal di dalam Tuhan, adalah agar kita tidak menghakimi mereka atas keputusan mereka. Kita tetap memberikan nasihat dan pendapat kita sebab kita mengasihi, tetapi kita tidak menghakimi maupun tidak perduli setelah ia mengambil keputusan, sebab yang tahu bagiannya dalam Tuhan adalah pribadi masing-masing dan Tuhan.


English

Bible Reading: Acts 21

In Paul's journey, he was reminded by the Holy Spirit through the people around him of the suffering he is going to go through. This was not the first time he heard of them, because the first time he met the Lord and repented, the Lord has told him that he will suffer for the name of the Lord. Paul kept following the Lord even though he knows of this. And when the Lord reminded him through the people around him, many people advises Paul to not go to Jerusalem so that he will not be captured and suffer. But Paul knows his portion and knows the will of God, such that he encouraged the people and confirmed his faith that he is willing to die for the Lord. What we need to learn here is the response from the people around him when Paul said that he is willing to die, because they let Paul go and said, "The will of the Lord be done". If what happened to Paul happened in the midst of us, many of us would not responded to Paul like that. Many of us would judge Paul and rebuke Paul with so many different reasons and perspective. We may say that because he has been warned or reminded, he need to avoid it. We can also say that Paul is stubborn and do not want to obey what has been reminded/warned. We could also say that Paul is not wise and too ambitious, and so on. But the people around Paul knows his ministries, life and portion, such that they responded to Paul in the right way. Not discouraging, but supporting Paul. Sometimes we may misinterpret prophecies if we do not know well the life of that person being prophesied. Sometimes we are also too easy to use our logics to make sure we are safe, this is not wrong, but sometimes we cannot use men's logic to understand the plan of God. What's important is our response to anyone who wants to do things for God, so that we would not condemn or judge them of their choice. We still give advice and opinion because we love them, but we do not judge nor condemn, or ignore them after they have chosen their decision, because the ones who knows their portion is themselves and the Lord.