Tuesday, February 14, 2012

Saling Melayani | Serving One Another

Indo:

Pembacaan Alkitab: Ayub 5-6

Dari perkataan Elifas, kita melihat bahwa Elifas ini perduli akan Ayub dan ia sedang menasihati, memberikan dukungan dan juga sekalian mengingatkan Ayub akan kebesaran Tuhan. Elifas juga mengingatkan Ayub untuk memeriksa dirinya, apakah ada yang salah di hadapan Tuhan, atau tidak. Terkadang di dalam lingkungan rohani kita, ada orang-orang yang dapat kita percayai untuk menasihati kita, untuk mengangkat kita ketika kita lemah dan untuk menguatkan kita. Kadang mereka mengingatkan akan kebesaran Tuhan, kadang akan apa yang mungkin kita telah lakukan yang salah, atau mungkin menegur kita akan persepsi kita yang masih salah dan sebagainya. Yang penting adalah kita memiliki saudara-saudara seiman yang dapat membangun, menegur dan menasihati kita. Jadi, bila kita memiliki kesusahan, biarlah kita berbagi dengan mereka, agar mereka juga dapat menguatkan, menegur atau menasihati kita. Sebab manusia tidak dapat berjalan sendirian.

Tapi jangan berhenti di situ saja, biarlah kehidupan kita juga dapat menjadi penasihat, pendukung, dan penegur bagi saudara-saudara kita juga. Janganlah kita hanya mau menerima, kita juga harus mau memberi. Oleh karena itu, marilah kita mulai lebih mengasiihi satu sama lain dan janganlah kita hanya fokus kepada diri kita sendiri, apa yang kita butuh dan sebagainya. Biarlah kita melihat sekeliling kita akan saudara-saudara seiman kita, teman-teman kita dan keluarga kita yang membutuhkan kata-kata yang membangun, menegur, menasihati dan menguatkan. Seperti Yesus yang melayani, biarlah kita juga melayani satu dan yang lain.


English:

Bible Reading: Job 5-6

From the words of Eliphas, we can see that Eliphas care about Job and he is advising, giving encouragement and also reminding Job of the greatness of God. Eliphas also remind Job to check himself, whether or not there is anything that he had done wrong before the Lord. Sometimes in our spiritual community, there are people whom we can trust to advice us, to lift us up when we are weak and to strengthen us. Sometimes they remind us of God's greatness, sometimes on what we may have done wrong, or maybe rebuking us of our perception which may still be wrong and others. What's important is that we have brethren in faith who can encourage, rebuke and advise us. So, if we have troubles, let us share it with them, so that they can strengthen, rebuke and advise us. Because men cannot live alone.

But do not stop there, let our lives become an adviser, encourager and one who rebukes too for our brethren. Do not let ourselves to only want to receive, we also need to want to give. Therefore, let us start to care for one another more and do not focus on ourselves, what we need and etc. Let us see around us, our brethren in faith, friends, families who needs words of encouragement, rebuke, advice or that strengthens them. Just like Jesus who serves, let us also serve one another.

Monday, February 13, 2012

Apa Yang Tidak Membunuh Kita, Membuat Kita Kuat | What Does Not Kill Us, Makes Us Stronger

Indo:

Pembacaan Alkitab: Ayub 4

Elifas berkata bahwa apa yang kita tabur, kita tuai juga. Bila kita tabur kejahatan maka kebinasaanlah yang akan kita tuai. Tetapi kita tentunya tahu bahwa dalam situasi Ayub, ia mengalami apa yang dialaminya karena Tuhan mengijinkan iblis untuk mengambil semua miliknya untuk membuktikan bahwa memang Ayub saleh dan takut akan Tuhan. Kitapun, sebagai anak Tuhan, mengalami hal yang sama di kehidupan kita. Apa yang kita alami di dunia ini adalah karena apa yang kita tabur di kehidupan kita atau  karena serangan iblis, oleh seijin Tuhan. Sebab kita, sebagai anak Tuhan, adalah milik-Nya oleh karena darah Kristus, asalkan kita tetap setia dan taat kepada Tuhan. Jadi, apapun itu, kita tidak perlu takut atau khawatir, sebab bila memang kita bersandar kepada Tuhan, maka Tuhan yang akan memberikan kepada kita jalan keluar.

Mengenai hal ini, betullah pepatah ini: "Apa yang tidak membunuh kita, membuat kita makin kuat". Sebab bila apa yang kita alami karena apa yang kita tabur di hidup kita, kita belajar untuk menabur hal-hal yang ilahi, yang sesuai dengan Firman Tuhan. Bila apa yang kita alami adalah serangan iblis, kita tahu bahwa Tuhan mengijinkannya untuk membuat kita makin kuat. Sebab nyawa tetap di tangan Tuhan dan bila Tuhan tidak memanggil kita balik, kita tidak akan meninggalkan dunia ini. Dan melalui setiap hal yang kita alami, bila kita tetap setia kepada Tuhan, maka kita akan melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan setiap kali dan kita akan belajar lebih lagi akan karakter dan Firman Tuhan. Oleh karena itu, biarlah kita terus setia, taat dan bersandar hanya kepada Tuhan Yesus Kristus.


English:

Bible Reading: Job 4

Eliphas said that what we sow, we will reap too. IF we sow wicked deed then we will reap death. But we know that in Job's case, he experienced what he did because the Lord gave permission to satan to tak all that he has to prove that Job is honest and fear God. We too are experiencing the same thing in our lives. What we, as children of God, experience in this world are because of what we sow in our lives or because of satan, by God's permission. Because we, as children of God, are His by the blood of Christ, as long as we stay faithful and obedient to the Lord. So, whatever it is, we do not need to fear or worry, because if we rely on the Lord, He will give us a way out.

With regard to this, this saying is true: "What does not kill us, makes us stronger." Because if what we experience are because of what we sow, we learn to sow godly things, which are according to the Word of God. IF what we experienced are satan's attacks, we know that the Lord gave permission to make us stronger. Because our lives is still is in His hands and if the Lord has not call us back, we will not leave this earth yet. And through every thing that we experience, if we stay faithful to the Lord, we will see the glory of God be revealed every time and we will learn more of His character and the Word of God. Therefore, let us always be faithful, obedient and rely on the Lord Jesus Christ.

Sunday, February 12, 2012

Berkat atau Tuhan? | Blessings Or God?

Indo:

Pembacaan Alkitab: Ayub 2-3

"Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Ini adalah ucapan Ayub ketika ia terkena barah yang busuk di seluruh tubuhnya dan ketika istrinya sendiripun menyuruhya mengutuki Allah. Sungguh hebat kesetiaan Ayub itu kepada Tuhan. Dan sangatlah jelas bahwa Ayub tidak mengikuti Tuhan hanya karena berkatnya saja, tetapi karena Tuhan adalah Allah yang patut disembah.

Bagaimana dengan kehidupan kita jikalau dibandingkan dengan perkataan Ayub itu? Apakah kita mencari Tuhan hanya untuk berkatnya saja? Apakah kita hanya mencari Tuhan karena mau enaknya saja? Biarlah kita hidupi apa yang Ayub katakan itu. Marilah kita mencari Tuhan karena memang kita ingin mengenal Tuhan yang adalah Allah semesta alam. Ingatlah, Tuhan bukanlah jin yang di dalam botol yang dapat kita panggil untuk meminta permintaan kita dikabulkan. Tuhan adalah Pencipta kita, Allah yang patut kita sembah dan puji dan bahkan mati untuk kita. Oleh karena itu, marilah kita buang segala motivasi yang salah dalam mencari dan mengikuti Tuhan. Biarlah ini menjadi pertanyaan bagi kita setiap hari dan setiap kali kita datang kepada Tuhan: "Apakah kita mencari berkat atau mencari Tuhan?"


English:

Bible Reading: Job 2-3

"Shall we indeed accept good from God, and shall we not accept adversity?" This is the saying of Job when he was struck with painful boils all over his body and when his wife told him to curse the Lord. The faithfulness of Job to God is truly commendable. And it is clear that Job did not follow God only because of the blessings, but because the Lord is the God worthy to be worshiped.

What about our lives if we compare it with the word of Job? Do we seek the Lord only for the blessings? Do we seek the Lord only because we want the easy way? Let us live what Job said. Let us seek the Lord because we want to know the Lord who is God of the universe. Remember that the Lord is not a genie in a bottle whom we can call to get our wish to be granted. The Lord is our Creator, the God worthy to be worshiped and praised and He even died for us. Therefore, let us throw away all the wrong motivation in seeking and following the Lord. Let this be the question for everyone of us everyday and every time we come to the Lord: "Do we seek blessings or God?"

Saturday, February 11, 2012

Takut Akan Tuhan | Fear Of The Lord

Indo:

Pembacaan Alkitab: Ayub 1

Ayub sungguh adalah seorang yang takut akan Allah. Ia memiliki segalanya dan bisa dikatakan bahwa ia sangatlah sukses. Tetapi ketika semua yang ia miliki hilang salam sekejap, Ayub tidak menyalahkan Tuhan, tidak mempertanyakan Tuhan dan tidak memaki-maki Tuhan, tetapi ia menyembah Tuhan. Bila bukan karena rasa takut akan Tuhan dan bila bukan karena kepercayaan dan imannya kepada Tuhan, Ayub tentu tidak akan bertindak demikian ketika ia kehilangan segalanya. Karena ia tahu bahwa Tuhan itu Pencipta dan yang memberikan segalanya bagi dia, Ayub tidak menyalahkan Tuhan. Karena ia tahu bahwa Tuhan yang pegang kendali kehidupannya, Ayub tidak mengutuki Tuhan. Sungguh, Ayub adalah orang yang takut akan Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Bayangkan bila tiba-tiba, kita mendapat kabar bahwa rumah kita kebakaran sehingga seluruh isinya habis terbakar, lalu kita mendapat kabar bahwa bank di mana kita menyimpan uang dan harta kita di rampok atau tiba-tiba bangkrut. Kemudian bisnis kita hancur dan bangkrut atau kita dipecat dari pekerjaan kita. Lalu kita juga mendapatkan kabar bahwa keluarga kita terkena kecelakaan dan semuanya meninggal. Mendengar semua kabar itu, apakah yang akan menjadi reaksi kita? Kita pasti langsung menangis, berduka dan kemudian bertanya-tanya kepada Tuhan akan mengapa semua itu terjadi atas hidup kita. Kita juga mungkin menyalahkan Tuhan. Atau kita dapat berkata bahwa kita selalu hidup mengikuti jalan Tuhan, tetapi mengapa Tuhan tidak adil kepada kita. Bukankah semua tiu yang akan menjadi reaksi kita ketika apa yang menimpa Ayub menimpa kita juga? Hanya dengan memiliki rasa takut akan Tuhan, iman dan kepercayaan yang mutlak kepada Tuhan, kita dapat seperti Ayub yang tidak menyalahkan Tuhan, tetapi justru menyembah Tuhan. Sebab apapun yang terjadi, Tuhan bekerja untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Mungkin kita masih belum dapat memiliki reaksi seperti Ayub. Tetapi bukankah banyak hal di hidup kita yang melatih kita untuk makin beriman dan percaya kepada Tuhan dan makin memiliki rasa takut akan Tuhan sehingga kita dapat mengucap syukur dan menyembah Tuhan dalam segala hal? Marilah kita hidup dengan rasa takut akan Tuhan, tahu bahwa Tuhan yang empunya, Ia yang pegang kendali dan Ia yang memiliki hak atas segala milik dan nyawa kita. Dengan begitu, kita tidak akan menyalahkan Tuhan ketika kita mengalami musibah, tetapi kita dapat mengucap syukur karena memang itu milik Tuhan dan haknya Tuhan. Hiduplah penuh dengan rasa takut akan Tuhan, penuh dengan iman dan percaya kepada Tuhan.


English:

Bible Reading: Job 1

Job truly is a man who fears the Lord. He had everything and it can be said that he is very successful. But when everything that he had gone in a flash, Job did not blame God, did not questioned God and did not curse God, but he worshiped the Lord. If it weren't for the fear of God, his believe and faith in the Lord, Job would not be able to act that way when he lost everything. Because he knows that the Lord is the Creator and the One who gave everything for him, Job did not blame God. Because he knows that the Lord is the one who holds the steer to his life, Job did not curse God. Truly, Job is a man who fears God.

What about us? Imagine if suddenly we received news that our house was on fire and everything was gone, then we received news that the bank where we store our money and treasures were robbed or went bankrupt. Then our business went downhill and bakrupt or we were fired from our job. We also received another news that our family was in an accident and all died. Hearing all that at once, what would be our reaction? We would definitely cry, mourn and then questions God as to why those things happened to us. We may also blame God. Or we may also said that we've been faithful in following His path, but why si the Lord being unfair to use. Wouldn't all that be our reaction when we experience what Job experienced? Only by having an absolut fear of the LOrd, faith and believe in the Lord, we'll be able to be like Job who did not blame God but worshiped God instead. Because, whatever happens, the Lord works for the good of those who loves Him. Maybe we do not yet have the reaction as Job did. But don'w we have a lot of things in our lives which are training us to have more faith, believe more in the Lord and to have the fear of the Lord so that we would give thanks and worship the Lord in all things? Let us live with the fear of God, knowing that the Lord is the One who has it all, He holds the steer and He have every right to all that we have and our lives. That way, we would not blame God when we face a disaster, but we will be able to give thanks because it belongs to the Lord and it is His rights. Live with the fear of God, full of faith and believe in the Lord.

Friday, February 10, 2012

Teguran | Rebuke

Indo:

Pembacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 7

Setelah Stefanus berbicara tentang kebenaran Tuhan dan Firman-Nya, kita lihat bahwa para mahkamah agama tertusuk hatinya, yakni mereka tertegur dan mereka tidak menerima teguran itu. Apa yang Stefanus katakan adalah kebenaran Firman Tuhan yang tertulis pada kitab-kitab perjanjian lama yang ditulis oleh Musa, raja-raja dan para nabi. Dan teguran yang Tuhan sampaikan melalui para nabi diulang kembali oleh Stefanus di sini. Langkah yang diambil oleh para mahkamah agama setelah mereka tertegur oleh Firman Tuhan, mereka menjadi sakit hati, tidak dapat menerima teguran itu dan mereka melempari Stefanus dengan batu sampai mati. Para mahkamah agama tidak dapat menerima teguran karena mereka merasa diri mereka benar dan dengan ditegur, mereka mungkin berasa bahwa harga diri mereka dilucuti, bahwa yang selama ini mereka percaya, yakni bahwa mereka selalu benar, adalah salah dan mereka bukannya bertobat, tetapi karena kesombongan dan harga diri, mereka malahan sakit hati dan membunuh Stefanus.

Bagaimana dengan kita, dengan sikap hati kita ketika kita ditegur? Tentunya ketika kita ditegur, tidaklah enak. Tetapi apakah kita rela ditegur, rela untuk diajar, dikoreksi? Ataukah kita terlalu sombong dan tinggi hati sehingga kita merasa ktia selalu benar dan tidak pernah salah? Ataukah juga walaupun kita tahu kita salah karena memang kita merasa tertegur, tetapi kita tidak mau bertobat karena harga diri, rasa malu dan kesombongan kita? Marilah kita periksa sikap hati dan karakter kita ketika kita ditegur. Marilah kita jangan seperti para mahkamah agama yang karena lebih mementingkan muka, posisi, harga diri dan karena kesombongan mereka, mereka tidak mau bertobat. Biarlah bila kita ditegur oleh Tuhan melalui Firman-Nya, khotbah yang kita dengar, ataupun melalui sesama kita, janganlah kita menutup hati, janganlah kita mementingkan muka kita di hadapan orang lain, tetapi pentingkanlah hati kita di hadapan Tuhan dan biarlah kita bertobat. Jadi, sikap seperti apakah yang akan kita ambil dan hidupi ketika kita ditegur? Apakah yang akan menjadi respon kita ketika kita ditegur dengan keras? Marilah kita belajar seperti Stefanus dan bukan seperti para mahkamah agama.


English:

Bible Reading: Acts 7

After Stephen talks about the truth of God and His Words, we can see that the teachers of the law were cut to the heart, they were rebuked and they rejected it. What Stephen said was the truth of the Word of God written in the Old Tetaments written by Moses, kings and prophets. And the rebuke that the Lord gave through the prophets was repeated by Stephen here. The steps that the teachers of the loaw took after they were rebuked by the Word of God was, they were hurt, could not receive the rebuke and they stoned Stephen to death. The teachers of the law could not take the rebuke because they felt that they were righteous and by being rebuke they maybe feel that their pride that they believe in so far, that they were always right was wrong, and they did not repent but because of their boastfulness, proudness and pride, they was cut to the heart and killed Stephen.

How about us, about how we would respond when we are rebuked? Of course when we are rebuked, it's not a good feeling. But are we willing to be rebuked, willing to be taught and corrected? Or are we too proud and boastful that we feel that we are always right and never wrong? Or do we know that we are wrong, but we do not want to repent because of pride, shame and our boastfulness? Let us check our heart's attitude and characters when we are rebuked. Let us not be like the teachers of the law who puts priority upon their image, position and pride and because of their boastfulness, they do not want to repent. If we are rebuked by the Word of God or through the sermons we hear, or through our brethren, do not close our hearts, do not prioritise our image, but prioritise our hearts before the Lord and let us repent. So, what kin of attitude will we adopt when we are rebuked? What will be our respond when we are rebuked harshly? Let us learn to be like Stephen and not like the teachers of the law.

Thursday, February 9, 2012

Tuhan Sanggup Ubahkan | The Lord Is Able To Change Things

Indo:

Pembacaan Alkitab: Ester 9-10

Pembelaan Tuhan dan kemenangan yang Tuhan berikan kepada orang Yahudi atas ancaman dan ketakutan yang mereka alami karena Haman adalah suatu hal yang luar biasa. Karena kuasa Tuhanlah semua ketakutan yang orang Yahudi alami diubahkan sehingga sekarang orang-orang yang takut akan orang Yahudi. Kemudian segala dukacita diubahkan menjadi sukacita, dan masalah yang tadinya terlihat sangat berat di depan mata menjadi suatu kesempatan untuk melawan musuh-musuh Israel. Yang lebih hebat lagi adalah bahwa Israel yang adalah tawanan dan sedang dalam pembuangan justru menjadi bangsa yang ditakuti dan didukung oleh raja. Semua ini karena kuasa Tuhan dan karena umat-Nya dan para pemimpin dengan sungguh-sungguh bersandar kepada Tuhan.

Hal yang sama juga dapat kita alami di hidup kita. Yakni mengalami kuasa Tuhan yang mengubah ketakutan menjadi kemenangan, dukacita menjadi sukacita, suatu masalah atau musibah menjadi suatu kesempatan untuk kita maju dan membesarkan nama Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah bersandar kepada Tuhan dalam segala hal yang kita hadapi dan hidupi. Bila kita sudah lihat pimpinan dan pembelaan Tuhan atas umat-Nya, tidakkah kita juga ingin hidup bersama dengan-Nya dan mengalami pimpinan dan pembelaan Tuhan juga? Marilah kita kejar pengalaman dengan Tuhan di dalam hidup kita sehingga kita tidak hanya menjadi orang yang hanya pernah mendengar kesaksian saja, tetapi biarlah kita dapat mengalami seperti Israel mengalami dan kitapun dapat memberikan kesaksian kepada orang lain agar merekapun dapat mengalami Tuhan. Sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang sanggup mengubah apa yang terlihat buruk menjadi sesuatu yang baik bagi kita.


English:

Bible Reading: Esther 9-10

The defense and victory that the Lord gave to the Jews due to the threat and fear that they experience because of Haman, was something amazing. Because of the power of the Lord, all fear that the Israelites experienced was changed and now people around them are afraid of the Jews. Then all mourning was changed into joy and problem that was seen as something so great became an opportunity to rid of their enemies. What's more amazing is that the Israelites who were prisoners and are casts away became a nation whom people fear and is supported by the king. All of this is because of the power of God and because His people and the leaders truly rely on the Lord.

We can also experience the same thing in our lives. That is to experience the power of God who can change fear into victory mourning into joy, a problem or disaster into an opportunity for us to move forward and to magnify the name of the Lord. What we need to do is to rely on the Lord in all things that we face and live in. If we have seen the leadership and defense that the Lord showed upon His people, do we not want to also live with Him and to experience His leadership and defense?Let us chase after experience with the Lord in our lives so that we do not become people who only have heard testimonies, but let us also experiences what the Israelites experienced and we can also give testimonies to others so that they too can experience God. Because the our Lord is an able God and is able to change anything that seems bad to something good for us.

Wednesday, February 8, 2012

Jangan Melalaikan Firman Tuhan | Do not Neglect The Word Of God

Indo:

Pembacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 6

Orang-orang percaya yang ada makin lama makin bertambah banyak karena para rasul yang menginjil dan melakukan mujijat. Dan orang-orang percaya ini melihat bahwa mereka melalaikan Firman Tuhan dalam membagikan bagian kepada janda-janda. Melihat hal itu mereka dengan segera melakukan sesuatu untuk menangani kelalaian ini. Sebab Tuhan Yesus sendiri yang memerintahkan agar umat Tuhan melayani para janda dan anak-anak yatim. Akhirnya, para rasul mengumpulkan mereka dan meminta mereka memilih 7 orang untuk melakukan tugas itu dan setelahnya para rasul mendoakan dan menumpangkan tangan atas mereka.

Kita lihat bagaimana orang-orang percaya pada saat itu dengan segera melakukan sesuatu untuk menangani kelalaian Firman Tuhan. Mereka semuanya memiliki hati yang sama, yakni untuk melakukan Firman Tuhan dan dengan hati itu mereka sama-sama ingin melakukan dan memenuhi Firman Tuhan. Bagaimana dengan hati dan sikap kita terhadap Firman Tuhan? Apakah kita memiliki kesiagaan seperti mereka yang dengan segera mencari jalan keluar untuk dapat tidak melalaikan Firman Tuhan? Sayangnya, banyak dari kita sering sibuk sendiri sehingga Firman Tuhan terlalaikan begitu saja. Marilah kita periksa kehidupan kita, sikap dan hati kita terhadap Firman Tuhan. Biarlah kita utamakan Firman Tuhan dan lakukan dengan segera dan tanpa melalaikannya. Kita tahu sendiri apakah kita melalaikan Firman Tuhan dengan mementingkan kehidupan dan keinginan diri sendiri atau tidak. Pertanyaannya adalah, apakah kita mau berubah dan hidup menjalankan Firman Tuhan atau tidak? Pilihan ada di tangan kita dan biarlah kita semua memilih yang berkenan dan sesuai dengan Firman Tuhan.


English:

Bible Reading: Acts 6

The believers are growing more in numbers because the apostles who preached and did miracles. And these believers saw that they are neglecting the Word of God in distributing to the widows. Seeing that, they immediately did something to handle this negligence. Because the Lord Jesus Himself commanded that the people of God serve the widows and orphans. In the end, the apostles gathered the believers and asked them to choose 7 people who will do this duty and afterwards the apostles prayed and laid hands upon them.

We can see how the believers at that time, immediately did something to handle the negligence of the Word of God. They all have the same heart, that is to see the Word of God be done and with that heart, they want to do and fulfill the Word of God. What about our hearts and attitude towards the Word of God? Do we have the readiness like them who immediately find a way out so that the Word of God is no longer neglected? Unfortunately, many of us are too busy with our own lives that the Word of God are neglected. Let us introspect our lives, hearts and attitudes toward the Word of God. Let us prioritise the Word of God and do them immediately and not neglecting them. We know ourselves whether we are neglecting the Word of God by putting ourselves and our desires first or not. The question is whether or not we want to change and to live by walking in the Word of God or not. The choice is in our hands and let us all choose what is pleasing and in accordance to the Word of God.