Indo:
Pembacaan Alkitab: 1Tawarikh 23-24
Sebelum Daud mati, dia sudah mempersiapkan segalanya untuk Salomo agar ia dapat membangun rumah Tuhan dengan segala yang terbaik. Tetapi ia tidak hanya berhenti di sana saja, Daud bahkan mengatur suku Lewi dan para imam agar mereka masing-masing memiliki jabatan dan tugas masing-masing dalam mengurusi rumah Tuhan. Sebab sekarang mereka sudah tidak perlu lagi ada jabatan untuk mengangkut tabut Allah, sebab tidak lagi di dalam tenda, tetapi di dalam rumah Tuhan, maka dari itu, ia membagi-bagikan setiap suku dengan tugasnya yang ada. Dari sini kita dapat melihat bahwa Daud tidak hanya memiliki hati yang tulus dan rindu untuk menyenangkan Tuhan, tetapi ia juga ingin agar segala hal yang dilakukan oleh umat Tuhan itu rapih dan layak untuk Tuhan. Daud benar-benar tidak sembarangan untuk Tuhan, ia memberikan yang terbaik dan menyusun pembagian penjagaan rumah Tuhan dengan penuh pemikiran dan tidak sembarangan.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita memberikan kepada Tuhan yang terbaik dan tidak sembarangan ataukah kita masih hanya memberikan Tuhan sisa-sisa dari apa yang kita masih punya? Sangatlah mudah untuk kita memenuhi keperluan kita dahulu dan memberikan untuk Tuhan segala yang masih ada sisa. Misalnya, sangat mudah untuk kita bangun pagi dan langsung sibuk sana sini mengurusi rumah tangga, atau siap-siap kerja atau siap-siap sekolah, atau bahkan langsung main game, buka komputer atau tv dan bila kita ingat, baru kita berdoa sebentar kepada Tuhan. Apakah ini memberikan yang terbaik bagi Tuhan? Apakah kita menghormati Tuhan bila kita melakukan hal ini? Marilah kita sadari dan mulailah kita menghormati, menghargai dan memberikan yang terbaik untuk Tuhan dalam segala hal di kehidupan kita. Soal waktu untuk Tuhan, membaca Firman, memuji Tuhan, berdoa, melakukan pekerjaan kita untuk Tuhan, memberikan persembahan kita dan sebagainya. Biarlah kita belajar seperti Daud yang memberikan yang terbaik sebab Tuhan layak menerima yang terbaik. Terpujilah Tuhan!
English:
Bible Reading: 1Chronicles 23-24
Before David died, he has prepared everything for Solomon so that he could build the house of the Lord with all that is the best. But he did not stop there, David also took care and assigned the Levites and the priests each to its own duties in taking care of the house of the Lord. Because now that they no longer has to move the ark of the Lord, because it will no longer be in a tent, but in the house of the Lord, therefore, he gave each family with a duty. From here, we can see that David not only has a pure and longing heart to please the Lord, but he also wants everything that is to be done by the people of the Lord be done accordingly, neatly and worthy for the Lord. David really is not just randomly do things for the Lord, he gave the best and he thought a lot and place each duties to each family with care.
What about us? Do we give the best to the Lord and not just as long as we do it, or do we only give what is leftover for the Lord? It is easy for us to fulfill our needs first and then give to the Lord what's leftover. For example, it is easy for us to wake up in the morning and be busy here and there, taking care of the house, getting ready for work, for school, or even went straight to play games, open computers or tv and if we remember, then we give a short prayer to the Lord. Is this giving the best for the Lord? Are we honouring the Lord if we do this? Let us realise and start honouring, appreciating and giving the best for the Lord in all things in our lives. Our time for the Lord, when we read the Word, praising God, praying, doing our work for the Lord, giving our offerings and etc. Let us learn to be like David who gave the best because the Lord deserves the best. Praise be to the Lord!
Monday, December 12, 2011
Sunday, December 11, 2011
Kehendak Tuhan | The Will of God
Indo:
Pembacaan Alkitab: 1Tawarikh 21-22
Sesungguhnya, Tuhan tidak dapat memaksakan kehendak-Nya kepada kita bila bukan kita yang meminta jalan-Nya atau meminta kepada-Nya untuk memaksakan kehendak-Nya kepada kita. Tetapi Tuhan selalu memberikan tanda-tanda dan hal-hal yang membuat kita mau memilih jalan yang benar. Misalnya, ketika Daud berdosa kepada Tuhan dengan berbuat sombong dan menghitung jumlah pasukannya, Tuhan memberikan 3 pilihan untuk Daud dan Daud memilih untuk jatuh di tangan Tuhan dan selama tiga hari, matilah 70.000 orang Israel. Tuhan menyesal dan ingin berhenti, tetapi tiga hari itu belum genap dan jika diteruskan maka akan makin banyak yang akan mati. Oleh karena itu Tuhan membiarkan Daud sehingga ia dapat melihat malaikat yang diutus-Nya untuk memusnahkan Yerusalem. Ketika Daud melihat malaikat itu dengan pedangnya teracung terhadap Yerusalem, maka Daud sujud dengan para tua-tua dengan berpakaian kabung dan meminta agar Tuhan melepaskan umat-Nya. Bila Daud tidak berdoa dan tidak mempersembahkan korban bakaran, maka Yerusalem pada hari itu akan musnah oleh karena perbuatan Daud. Tetapi karena Daud berdoa dan mempersembahkan korban, maka Tuhan mengangkat hukuman itu. Tetapi bila Tuhan tidak menunjukkan kepada Daud akan malaikat-Nya dengan pedang terhunus, maka Daud tidak akan sadar dan tidak akan berdoa dan mempersembahkan korban.
Dengan cara yang serupa, Tuhan seringkali memperlihatkan dan memberikan kepada kita tanda-tanda atau hal-hal yang membuat kita mengerti dan berdoa untuk apa yang dikehendaki oleh hati-Nya. Oleh karena itu, marilah kita buka mata, hati dan pikiran kita untuk Tuhan. Marilah kita serahkan kehidupan kita ini untuk kemuliaan Tuhan dan kehendak-Nya sehingga apa yang Tuhan tunjukkan kepada kita tidak terlewatkan begitu saja. Tetapi biarlah kita berdoa untuk mengenal kehendak-Nya, melakukannya dan bahkan untuk kita melepaskan kehendak bebas kita dan meminta agar kehendak-Nya yang dipaksakan dan terjadi di dalam kehidupan kita. Sebab Tuhan rindu melihat umat-Nya dekat dan mengenal hati-Nya dan melaksanakan-Nya. Jadi, marilah kita sadari bahwa Tuhanlah yang selalu memimpin kita untuk dapat mengerti isi hati-Nya, tetapi jika kita ingin lebih lagi, biarlah kita letakkan kehendak kita dan ambil kehendak-Nya.
English:
Bible Reading: 1Chronicles 21-22
Truly, the Lord cannot force His will upon us if it's not us who asks for His way or as of Him to force His will upon us. But the Lord always gives us signs and things that makes us want to choose the right way. For example, when David sinned against God by acting boastful and counting his men, the Lord gave him 3 choices and David chose to fall in the hand of God and within three days, 70,000 Israelites died. The Lord regretted and want to stop, but the three days is not yet complete and if it was to be continued, then there will be more people who will die. Therefore, the Lord let David see the angel that He sent to destroy Jerusalem. When David saw the angel with its sword heading towards Jerusalem, then David fell down on his knees with the elders and with sackcloth and ask for the Lord to stop. If David did not pray and did not offer up sacrifices, then Jerusalem will be destroyed that day because of David's sin. But because David prayed and offered sacrifice, the Lord took the punishment away. But if the Lord had not shown David his angel with the sword, then David would not have realised and would not pray and offer sacrifice.
With similar ways, the Lord often shows and gives us signs and things that makes us understand and pray for the things that His heart desires. Therefore, let us open our eyes, hearts and minds for the Lord. Let us surrender our lives for the glory and the will of the Lord, so that what He shows to us will not be missed just like that. But let us pray to know His will, to do it and even for us to let go of our free will and ask for His will be forced and be done in our lives. Because the Lord longs to see His people to be close to Him and know His heart and to do it. So, let us realise that the Lord is the One who always leads us to understand His heart, but if we want more, then let us lay down our will and take His will.
Pembacaan Alkitab: 1Tawarikh 21-22
Sesungguhnya, Tuhan tidak dapat memaksakan kehendak-Nya kepada kita bila bukan kita yang meminta jalan-Nya atau meminta kepada-Nya untuk memaksakan kehendak-Nya kepada kita. Tetapi Tuhan selalu memberikan tanda-tanda dan hal-hal yang membuat kita mau memilih jalan yang benar. Misalnya, ketika Daud berdosa kepada Tuhan dengan berbuat sombong dan menghitung jumlah pasukannya, Tuhan memberikan 3 pilihan untuk Daud dan Daud memilih untuk jatuh di tangan Tuhan dan selama tiga hari, matilah 70.000 orang Israel. Tuhan menyesal dan ingin berhenti, tetapi tiga hari itu belum genap dan jika diteruskan maka akan makin banyak yang akan mati. Oleh karena itu Tuhan membiarkan Daud sehingga ia dapat melihat malaikat yang diutus-Nya untuk memusnahkan Yerusalem. Ketika Daud melihat malaikat itu dengan pedangnya teracung terhadap Yerusalem, maka Daud sujud dengan para tua-tua dengan berpakaian kabung dan meminta agar Tuhan melepaskan umat-Nya. Bila Daud tidak berdoa dan tidak mempersembahkan korban bakaran, maka Yerusalem pada hari itu akan musnah oleh karena perbuatan Daud. Tetapi karena Daud berdoa dan mempersembahkan korban, maka Tuhan mengangkat hukuman itu. Tetapi bila Tuhan tidak menunjukkan kepada Daud akan malaikat-Nya dengan pedang terhunus, maka Daud tidak akan sadar dan tidak akan berdoa dan mempersembahkan korban.
Dengan cara yang serupa, Tuhan seringkali memperlihatkan dan memberikan kepada kita tanda-tanda atau hal-hal yang membuat kita mengerti dan berdoa untuk apa yang dikehendaki oleh hati-Nya. Oleh karena itu, marilah kita buka mata, hati dan pikiran kita untuk Tuhan. Marilah kita serahkan kehidupan kita ini untuk kemuliaan Tuhan dan kehendak-Nya sehingga apa yang Tuhan tunjukkan kepada kita tidak terlewatkan begitu saja. Tetapi biarlah kita berdoa untuk mengenal kehendak-Nya, melakukannya dan bahkan untuk kita melepaskan kehendak bebas kita dan meminta agar kehendak-Nya yang dipaksakan dan terjadi di dalam kehidupan kita. Sebab Tuhan rindu melihat umat-Nya dekat dan mengenal hati-Nya dan melaksanakan-Nya. Jadi, marilah kita sadari bahwa Tuhanlah yang selalu memimpin kita untuk dapat mengerti isi hati-Nya, tetapi jika kita ingin lebih lagi, biarlah kita letakkan kehendak kita dan ambil kehendak-Nya.
English:
Bible Reading: 1Chronicles 21-22
Truly, the Lord cannot force His will upon us if it's not us who asks for His way or as of Him to force His will upon us. But the Lord always gives us signs and things that makes us want to choose the right way. For example, when David sinned against God by acting boastful and counting his men, the Lord gave him 3 choices and David chose to fall in the hand of God and within three days, 70,000 Israelites died. The Lord regretted and want to stop, but the three days is not yet complete and if it was to be continued, then there will be more people who will die. Therefore, the Lord let David see the angel that He sent to destroy Jerusalem. When David saw the angel with its sword heading towards Jerusalem, then David fell down on his knees with the elders and with sackcloth and ask for the Lord to stop. If David did not pray and did not offer up sacrifices, then Jerusalem will be destroyed that day because of David's sin. But because David prayed and offered sacrifice, the Lord took the punishment away. But if the Lord had not shown David his angel with the sword, then David would not have realised and would not pray and offer sacrifice.
With similar ways, the Lord often shows and gives us signs and things that makes us understand and pray for the things that His heart desires. Therefore, let us open our eyes, hearts and minds for the Lord. Let us surrender our lives for the glory and the will of the Lord, so that what He shows to us will not be missed just like that. But let us pray to know His will, to do it and even for us to let go of our free will and ask for His will be forced and be done in our lives. Because the Lord longs to see His people to be close to Him and know His heart and to do it. So, let us realise that the Lord is the One who always leads us to understand His heart, but if we want more, then let us lay down our will and take His will.
Saturday, December 10, 2011
Mengasihi Musuh Kita | Loving Our Enemies
Indo:
Pembacaan Alkitab: 1Tawarikh 19-20
Melalui kejadian dengan raja bani Amon, kita dapat melihat bahwa Daud memiliki karakter yang luar biasa. Dengan maksud baik, ia mengirimkan orang kepada raja bani Amon karena ayahnya baru saja meninggal, tetapi itu dibalasnya dengen kejahatan. Orang-orang suruhan Daud dipermalukannya. Daud bisa saja langsung marah dan langsung pergi menyerang mereka tanpa mereka mempersiapkan apa-apa, tetapi Daud tidak melakukan hal itu. Ia tidak menyerang bani Amon. Tetapi justru orang bani Amon pergi mengumpulkan bala bantuan dari orang Aram untuk menyerang Israel dan karena Daud mendengar bahwa mereka akan diserang, Daud mempersiapkan tentaranya untuk pergi berperang. Kita juga lihat bahwa Tuhan beserta dengan Israel sehingga mereka menang.
Bila kita tidak membaca dengan seksama, maka mungkin kita merasa bahwa Daud setelah dipermalukan pergi menyerang bani Amon karena kemarahannya, tetapi sebenarnya karena bani Amon yang memulai dahulu untuk memerangi Daud, maka Daud mempersiapkan tentaranya. Bagaimana dengan karakter dan sikap hati kita ketika kita atau keluarga kita dipermalukan atau diejek? Apakah kita akan terus marah dan akhirnya berdosa? Ataukah kita dapat melakukan apa yang Tuhan Yesus perintahkan, yakni untuk memberikan pipi kiri kita bila pipi kanan kita ditampar (Matius 5:39) dan juga perintah untuk mengasihi musuh kita (Matius 5:44)? Biarlah kita belajar untuk memiliki sikap hati yang dapat mengasihi musuh kita, mengampuni mereka, mendoakan mereka dan bahkan biarlah kita latih diri kita untuk tidak berdosa bila kita marah. Tentunya kita tidak dapat melakukan hal ini sendirian dan dengan kekuatan kita, kita perlu untuk bersandar dan meminta kekuatan dari Roh Kudus. Oleh sebab itu, biarlah kita minta agar Roh Kudus yang ajarkan kita untuk dapat mengasihi musuh kita.
English:
Bible Reading: 1Chronicles 19-20
Through this event with the king of the Amonites, we can see that David has an amazing character. With a good intention, he sent his people to the king of Amonites, because his father just passed away, but it was return with evil. David's people was put to shame. David could went to rage and attack them straight away without them having time to prepare, but David did not do that. He did not attack the Amonites. But it was the Amonites who was getting help from Syrians to attack Israel and because David heard about how they are going to attack, David prepared his army to go to battle. We can also see that the Lord is with the Israelites that they won.
If we do not read it carefully, we might think that David after being put to shame. went straight to attack the Amonites because of his anger, but it was the Amonites who started the battle, and David prepared his army after hearing this. What about our character and attitude when we or our family are being put to shame or mocked? Do we go on rage and in the end sinned? Or are we able to do what the Lord Jesus has commanded us, that is to give our left cheek when our right cheek are slapped (Matthew 5:39) and also the command to love our enemies (Matthew 5:44)? Let us learn to have the attitude that is able to love our enemies, forgive them, pray for them and let us train ourselves to not sin when we are angry. Of course, we cannot do this on our own and with our own strength, we need to rely on and ask the power of the Holy Spirit. Therefore, let us ask the Holy Spirit to teach us to be able to love our enemies.
Pembacaan Alkitab: 1Tawarikh 19-20
Melalui kejadian dengan raja bani Amon, kita dapat melihat bahwa Daud memiliki karakter yang luar biasa. Dengan maksud baik, ia mengirimkan orang kepada raja bani Amon karena ayahnya baru saja meninggal, tetapi itu dibalasnya dengen kejahatan. Orang-orang suruhan Daud dipermalukannya. Daud bisa saja langsung marah dan langsung pergi menyerang mereka tanpa mereka mempersiapkan apa-apa, tetapi Daud tidak melakukan hal itu. Ia tidak menyerang bani Amon. Tetapi justru orang bani Amon pergi mengumpulkan bala bantuan dari orang Aram untuk menyerang Israel dan karena Daud mendengar bahwa mereka akan diserang, Daud mempersiapkan tentaranya untuk pergi berperang. Kita juga lihat bahwa Tuhan beserta dengan Israel sehingga mereka menang.
Bila kita tidak membaca dengan seksama, maka mungkin kita merasa bahwa Daud setelah dipermalukan pergi menyerang bani Amon karena kemarahannya, tetapi sebenarnya karena bani Amon yang memulai dahulu untuk memerangi Daud, maka Daud mempersiapkan tentaranya. Bagaimana dengan karakter dan sikap hati kita ketika kita atau keluarga kita dipermalukan atau diejek? Apakah kita akan terus marah dan akhirnya berdosa? Ataukah kita dapat melakukan apa yang Tuhan Yesus perintahkan, yakni untuk memberikan pipi kiri kita bila pipi kanan kita ditampar (Matius 5:39) dan juga perintah untuk mengasihi musuh kita (Matius 5:44)? Biarlah kita belajar untuk memiliki sikap hati yang dapat mengasihi musuh kita, mengampuni mereka, mendoakan mereka dan bahkan biarlah kita latih diri kita untuk tidak berdosa bila kita marah. Tentunya kita tidak dapat melakukan hal ini sendirian dan dengan kekuatan kita, kita perlu untuk bersandar dan meminta kekuatan dari Roh Kudus. Oleh sebab itu, biarlah kita minta agar Roh Kudus yang ajarkan kita untuk dapat mengasihi musuh kita.
English:
Bible Reading: 1Chronicles 19-20
Through this event with the king of the Amonites, we can see that David has an amazing character. With a good intention, he sent his people to the king of Amonites, because his father just passed away, but it was return with evil. David's people was put to shame. David could went to rage and attack them straight away without them having time to prepare, but David did not do that. He did not attack the Amonites. But it was the Amonites who was getting help from Syrians to attack Israel and because David heard about how they are going to attack, David prepared his army to go to battle. We can also see that the Lord is with the Israelites that they won.
If we do not read it carefully, we might think that David after being put to shame. went straight to attack the Amonites because of his anger, but it was the Amonites who started the battle, and David prepared his army after hearing this. What about our character and attitude when we or our family are being put to shame or mocked? Do we go on rage and in the end sinned? Or are we able to do what the Lord Jesus has commanded us, that is to give our left cheek when our right cheek are slapped (Matthew 5:39) and also the command to love our enemies (Matthew 5:44)? Let us learn to have the attitude that is able to love our enemies, forgive them, pray for them and let us train ourselves to not sin when we are angry. Of course, we cannot do this on our own and with our own strength, we need to rely on and ask the power of the Holy Spirit. Therefore, let us ask the Holy Spirit to teach us to be able to love our enemies.
Friday, December 9, 2011
Karunia Bapa | Grace Of The Father
Indo:
Pembacaan Alkitab: Yohanes 6
Tuhan Yesus mengajarkan bahwa Ia adalah roti hidup dan mereka yang memakan roti hidup akan hidup selama-lamanya. Tuhan di sini mengatakan akan bagaimana kita perlu untuk hidup di dalam Tuhan dan Firman-Nya, sebab itulah makanan rohani kita sehari-hari. Oleh sebab itu ,marilah kita makan Firman Tuhan setiap harinya agar roh kita terus kuat dan hidup di dalam Tuhan dan tidak mati karena tidak mendapatkan makanan. Tetapi Tuhan tidak berhenti mengajarkan kita di sini saja, Ia juga memberitahukan kepada kita bahwa tidak ada yang datang kepada Tuhan Yesus kalau Bapa tidak mengaruniakannya. Jadi, kita yang sudah percaya dan dapat mengenal Dia adalah karena karunia dan bukan karena hal-hal yang lainnya. Oleh karena itu marilah kita mengucap syukur senantiasa, sebab Ia begitu mengasihi kita. Tetapi janganlah kita berhenti hanya dengan mengucap syukur saja, tetapi biarlah kita juga berdoa bagi saudara-saudara, teman-teman dan orang-orang yang belum mengenal Tuhan agar mereka juga dapat mengalami karunia Bapa.
Marilah kita hidup senantiasa memberi makan roh kita dengan Firman Tuhan dan biarlah kita hidup penuh dengan ucapan syukur karena kasih karunia Tuhan dan biarlah kita berdoa dan bagikan kasih karunia itu kepada orang-orang di sekitar kita.
English:
Bible Reading: John 6
The Lord Jesus teaches that He is the bread of life and that those who eats of it will live forever. The Lord here is saying how we need to live in the Lord and His Words, because that is our daily food for our spiritual man. Therefore, let us eat the Word of God daily so that our spirit will be strong in the Lord and do not die because of lack of food. But the Lord did not stop there. He also teaches us that no one comes to the Lord Jesus if it is not the Father who gave grace to do so. So, we who have believed and know Him, it is all by grace and not by other things. Therefore, let us give thanks always, because He loves us so. But do not stop just by giving thanks, but let us also pray for our brethren, friends and others who have not yet known the Lord so that they too may experience the grace of the Father.
Let us always feed our spirit with the Word of God and let us live full of thanksgiving because of the grace of the Lord and let us pray and share that grace to the people around us.
Pembacaan Alkitab: Yohanes 6
Tuhan Yesus mengajarkan bahwa Ia adalah roti hidup dan mereka yang memakan roti hidup akan hidup selama-lamanya. Tuhan di sini mengatakan akan bagaimana kita perlu untuk hidup di dalam Tuhan dan Firman-Nya, sebab itulah makanan rohani kita sehari-hari. Oleh sebab itu ,marilah kita makan Firman Tuhan setiap harinya agar roh kita terus kuat dan hidup di dalam Tuhan dan tidak mati karena tidak mendapatkan makanan. Tetapi Tuhan tidak berhenti mengajarkan kita di sini saja, Ia juga memberitahukan kepada kita bahwa tidak ada yang datang kepada Tuhan Yesus kalau Bapa tidak mengaruniakannya. Jadi, kita yang sudah percaya dan dapat mengenal Dia adalah karena karunia dan bukan karena hal-hal yang lainnya. Oleh karena itu marilah kita mengucap syukur senantiasa, sebab Ia begitu mengasihi kita. Tetapi janganlah kita berhenti hanya dengan mengucap syukur saja, tetapi biarlah kita juga berdoa bagi saudara-saudara, teman-teman dan orang-orang yang belum mengenal Tuhan agar mereka juga dapat mengalami karunia Bapa.
Marilah kita hidup senantiasa memberi makan roh kita dengan Firman Tuhan dan biarlah kita hidup penuh dengan ucapan syukur karena kasih karunia Tuhan dan biarlah kita berdoa dan bagikan kasih karunia itu kepada orang-orang di sekitar kita.
English:
Bible Reading: John 6
The Lord Jesus teaches that He is the bread of life and that those who eats of it will live forever. The Lord here is saying how we need to live in the Lord and His Words, because that is our daily food for our spiritual man. Therefore, let us eat the Word of God daily so that our spirit will be strong in the Lord and do not die because of lack of food. But the Lord did not stop there. He also teaches us that no one comes to the Lord Jesus if it is not the Father who gave grace to do so. So, we who have believed and know Him, it is all by grace and not by other things. Therefore, let us give thanks always, because He loves us so. But do not stop just by giving thanks, but let us also pray for our brethren, friends and others who have not yet known the Lord so that they too may experience the grace of the Father.
Let us always feed our spirit with the Word of God and let us live full of thanksgiving because of the grace of the Lord and let us pray and share that grace to the people around us.
Thursday, December 8, 2011
Panggilan & Bagian Kita Di Jaman Ini | Our Calling & Part In This Era
Indo:
Pembacaan Alkitab: 1Tawarikh 17-18
Saat kita melihat kembali kepada tanggapan Tuhan terhadap keinginan hati Daud untuk membangun rumah bagi Tuhan, kita dapat melihat bahwa Tuhan suka akan hatinya itu, tetapi itu bukanlah bagiannya Daud. Bagian Daud adalah untuk berperang dan untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya sehingga Israel menjadi kerajaan yang kokoh dan Tuhan dimuliakan. Sedangkan untuk membangun rumah Tuhan dan mengurusinya, itu adalah bagiannya anak Daud, Salomo. Dari sini kita dapat belajar akan 2 hal.
Yang pertama, setiap dari kita ada panggilannya masing-masing, dan tidak semua yang ada di hati kita itu yang Tuhan ingin kita lakukan. Oleh sebab itu, marilah kita belajar seperti Daud yang selalu bertanya kepada Tuhan sendiri dan melalui nabi. Biarlah kita bertanya kepada Tuhan akan apa yang Ia ingin kita lakukan dan naikkan kepada-Nya apa yang kita ingin lakukan untuk-Nya. Dengan begitu, kita tidak membuang waktu dan tenaga kita untuk hal yang bukan untuk kita, tetapi untuk orang lain.
Yang kedua, tiap generasi atau era, ada cara hidupnya masing-masing. Misalnya, pada jaman Saul dan Daud, itu adalah jaman peperangan untuk mengokohkan kerajaan Israel. Sedangkan pada jaman Salomo, itu adalah jamannya tenang, damai dan jamannya membangun relasi dengan kerajaan-kerajaan lainnya. Dan tiap orang yang ada di jaman itu melakukan bagiannya masing-masing dan memiliki cara hidupnya masing-masing. Pada jaman Daud, semuanya berlatih perang dan selalu siap siaga, sedangkan pada jaman Salomo, mereka lebih tenang dan lebih tidak khawatir karena tidak ada musuh yang menyerang mereka. Jadi, apakah jaman yang kita hadapi saat ini? Jika kita tidak tahu jaman apa yang kita hidupi saat ini, maka kita juga tidak tahu akan gaya hidup yang perlu kita hidupi. Dari yang dapat kita lihat, saat ini adalah jaman, di mana tanda-tanda akhir jaman sudah terlihat. Dan kita tahu di akhir jaman ini, inilah saatnya kita umat Tuhan, sebagai mempelai-Nya mempersiapkan diri untuk menyambut Tuhan, tetapi juga saat-saat di mana kita berperang, bukan melawan daging, tetapi melawan roh-roh dan penguasa-penguasa di udara (Efesus 6:12). Oleh sebab itu, marilah kita sadar akan jaman yang kita hidup saat ini dan biarlah kita hidup sesuai dengan jaman ini. Marilah kita hidup untuk mempersiapkan diri kita untuk menyambut Tuhan dan juga hidup selalu dekat dengan Tuhan, dengan Roh Kudus dan selalu siaga sebab peperangan rohani terjadi di mana-mana.
Marilah kita datang kepada Tuhan untuk meminta pimpinan-Nya agar kita dapat mengerti panggilan kita, bagian kita yang Ia ingin kita lakukan di jaman sekarang ini, jaman peperangan rohani dan persiapan mempelai Tuhan. Terpujilah Tuhan Allah yang membukakan rahasia-rahasia surgawi!
English:
Bible Reading: 1Chronicles 17-18
When we look again at the respond of the Lord towards the desire of David to build a house for the Lord, we can see that the Lord loves that heart, but it is not David's part to do. David's part is to got o war and to defeat the kingdoms sot hat Israel becomes an established kingdom and the Lord is glorified. While the part to build the house of the Lord and to take care of it falls to David's son, Solomon. From here, we can learn two things.
Firstly, everyone of us have our own calling and not all that is in our hearts is what the Lord wants us to do. Therefore, let us learn to be like David who always asks the Lord himself and through prophets. Let us ask the Lord of what He wants us to do and lift up to Him the things we want to do for Him. That way, we are not wasting time and resources in doing things that are not our parts but others.
Secondly, every generation or era has its own lifestyle. For example, during the times of Saul and David, it is times of war to establish the kingdom of Israel. While during the time of Solomon, that is the times of peace and to build relation with other kingdoms. And everyone who lives in those era does their part and have their own lifestyle. During the times of David, everyone is trained at war and always ready for war, while during the times of Solomon, they are more relax and less anxious because there are no enemies who are attacking them. So what kind of era do we live in now? If we do not know what kind of era we live in now, then we also do not know what kind of lifestyle we need to adopt. From what we can see, this is the era when the signs of the end times are seen. And we know that in the end times, it is time for the us, the people of God to prepare ourselves as His bride to welcome Him, but also it is a time of war, not against flesh, but it is against the rulers, authorities, powers and the spiritual forces of evil in the heavenly realms (Ephesians 6:12). Therefore, let us realise the era we live in and let us live accordingly. Let us live to prepare ourselves to welcome the Lord and also to live intimately with the Lord and the Holy Spirit and always ready because the spiritual warfare is happening everywhere.
Let us come to the Lord to ask for His guidance so that we would understand our calling and parts what He wants us to do in this era, the era of spiritual warfare and to prepare the bride of the Lord. Blessed be the Lord God who reveal the secrets of heavens!
Pembacaan Alkitab: 1Tawarikh 17-18
Saat kita melihat kembali kepada tanggapan Tuhan terhadap keinginan hati Daud untuk membangun rumah bagi Tuhan, kita dapat melihat bahwa Tuhan suka akan hatinya itu, tetapi itu bukanlah bagiannya Daud. Bagian Daud adalah untuk berperang dan untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya sehingga Israel menjadi kerajaan yang kokoh dan Tuhan dimuliakan. Sedangkan untuk membangun rumah Tuhan dan mengurusinya, itu adalah bagiannya anak Daud, Salomo. Dari sini kita dapat belajar akan 2 hal.
Yang pertama, setiap dari kita ada panggilannya masing-masing, dan tidak semua yang ada di hati kita itu yang Tuhan ingin kita lakukan. Oleh sebab itu, marilah kita belajar seperti Daud yang selalu bertanya kepada Tuhan sendiri dan melalui nabi. Biarlah kita bertanya kepada Tuhan akan apa yang Ia ingin kita lakukan dan naikkan kepada-Nya apa yang kita ingin lakukan untuk-Nya. Dengan begitu, kita tidak membuang waktu dan tenaga kita untuk hal yang bukan untuk kita, tetapi untuk orang lain.
Yang kedua, tiap generasi atau era, ada cara hidupnya masing-masing. Misalnya, pada jaman Saul dan Daud, itu adalah jaman peperangan untuk mengokohkan kerajaan Israel. Sedangkan pada jaman Salomo, itu adalah jamannya tenang, damai dan jamannya membangun relasi dengan kerajaan-kerajaan lainnya. Dan tiap orang yang ada di jaman itu melakukan bagiannya masing-masing dan memiliki cara hidupnya masing-masing. Pada jaman Daud, semuanya berlatih perang dan selalu siap siaga, sedangkan pada jaman Salomo, mereka lebih tenang dan lebih tidak khawatir karena tidak ada musuh yang menyerang mereka. Jadi, apakah jaman yang kita hadapi saat ini? Jika kita tidak tahu jaman apa yang kita hidupi saat ini, maka kita juga tidak tahu akan gaya hidup yang perlu kita hidupi. Dari yang dapat kita lihat, saat ini adalah jaman, di mana tanda-tanda akhir jaman sudah terlihat. Dan kita tahu di akhir jaman ini, inilah saatnya kita umat Tuhan, sebagai mempelai-Nya mempersiapkan diri untuk menyambut Tuhan, tetapi juga saat-saat di mana kita berperang, bukan melawan daging, tetapi melawan roh-roh dan penguasa-penguasa di udara (Efesus 6:12). Oleh sebab itu, marilah kita sadar akan jaman yang kita hidup saat ini dan biarlah kita hidup sesuai dengan jaman ini. Marilah kita hidup untuk mempersiapkan diri kita untuk menyambut Tuhan dan juga hidup selalu dekat dengan Tuhan, dengan Roh Kudus dan selalu siaga sebab peperangan rohani terjadi di mana-mana.
Marilah kita datang kepada Tuhan untuk meminta pimpinan-Nya agar kita dapat mengerti panggilan kita, bagian kita yang Ia ingin kita lakukan di jaman sekarang ini, jaman peperangan rohani dan persiapan mempelai Tuhan. Terpujilah Tuhan Allah yang membukakan rahasia-rahasia surgawi!
English:
Bible Reading: 1Chronicles 17-18
When we look again at the respond of the Lord towards the desire of David to build a house for the Lord, we can see that the Lord loves that heart, but it is not David's part to do. David's part is to got o war and to defeat the kingdoms sot hat Israel becomes an established kingdom and the Lord is glorified. While the part to build the house of the Lord and to take care of it falls to David's son, Solomon. From here, we can learn two things.
Firstly, everyone of us have our own calling and not all that is in our hearts is what the Lord wants us to do. Therefore, let us learn to be like David who always asks the Lord himself and through prophets. Let us ask the Lord of what He wants us to do and lift up to Him the things we want to do for Him. That way, we are not wasting time and resources in doing things that are not our parts but others.
Secondly, every generation or era has its own lifestyle. For example, during the times of Saul and David, it is times of war to establish the kingdom of Israel. While during the time of Solomon, that is the times of peace and to build relation with other kingdoms. And everyone who lives in those era does their part and have their own lifestyle. During the times of David, everyone is trained at war and always ready for war, while during the times of Solomon, they are more relax and less anxious because there are no enemies who are attacking them. So what kind of era do we live in now? If we do not know what kind of era we live in now, then we also do not know what kind of lifestyle we need to adopt. From what we can see, this is the era when the signs of the end times are seen. And we know that in the end times, it is time for the us, the people of God to prepare ourselves as His bride to welcome Him, but also it is a time of war, not against flesh, but it is against the rulers, authorities, powers and the spiritual forces of evil in the heavenly realms (Ephesians 6:12). Therefore, let us realise the era we live in and let us live accordingly. Let us live to prepare ourselves to welcome the Lord and also to live intimately with the Lord and the Holy Spirit and always ready because the spiritual warfare is happening everywhere.
Let us come to the Lord to ask for His guidance so that we would understand our calling and parts what He wants us to do in this era, the era of spiritual warfare and to prepare the bride of the Lord. Blessed be the Lord God who reveal the secrets of heavens!
Wednesday, December 7, 2011
Meninggikan Tuhan | Lifting The Lord on High
Indo:
Pembacaan Alkitab: 1Tawarikh 15-16
Daud membawa Tabut Allah masuk ke Yerusalem, ke kota Daud, dan di sana ia penuh dengan nyanyian, tarian, sukacita yang melimpah. Ketika Tabut Allah itu masuk, Daud dan seluruh umat Israel bersorak-sorai, menaikkan pujian, penyembahan, tarian, musik, dan memberikan persembahan kepada Tuhan. Khususnya, Daud, yang adalah raja, tetapi ia tidak memperdulikan jabatannya di hadapan Tuhan dan ia menari-nari di hadapan Tuhan dan rakyat sedemikian rupa hingga Mikhal memandang rendah Daud. Sungguh hati Daud terhadap Tuhan itu tulus, murni dan penuh dengan hormat dan pujian.
Apakah kita memiliki apa yang Daud miliki? Apakah kita mau miliki apa yang Daud miliki? Apakah kita begitu mengasihi, menghormati dan memuji Tuhan sehingga dengan adanya Tuhan dalam kehidupan kita, kita penuh dengan pujian, ucapan syukur, dan penyembahan kepada Tuhan? Apakah kita rela dianggap seperti orang gila dalam hal memuji, menyembah dan meninggkan Tuhan dalam hidup kita? Ataukah kita masih memikirkan harga diri kita, bagaimana orang akan memandang kita dan sebagainya? Marilah kita belajar seperti Daud yang jujur, di hadapan Tuhan dan orang-orang. Marilah kita tidak memakai topeng ataupun menutup-tutupi atau menekan sukacita, pujian dan penyembahan kita hanya karena kita takut akan apa yang orang akan katakan nanti. Biarlah kita tinggikan Tuhan melebihi harga diri kita, melebihi martabat diri kita sendiri. Bukankah apa yang Tuhan akan katakan kepada kita dan pikir tentang kita jauh lebih berharga daripada kata-kata atau pandangan orang-orang di dunai ini? Maka dari itu, biarlah kita melepaskan segala hal yang membatasi kita untuk memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap jiwa, kekuatan, hati dan pikiran kita. Terpujilah Tuhan Allah yang layak dipuji!
English:
Bible Reading: 1Chronicles 15-16
David brought the Ark of the Lord into Jerusalem, the city of David and there he was full of singing, dancing, and abundance of joy. When the Ark of the Lord enters, David and all the Israelites lift a shout of praise, worship, dancing, music and offer sacrifices to the Lord. Especially David, who was king, but he did not care for his position in front of the Lord and he danced before the Lord and the people such that Michal despised him. Truly the heart of David towards God is pure, sincere and full of honour and praise.
Do we have what David had? Do we want to have what David had? Do we love, honour and praise God so much that with God in our lives, we are full of praise, thanksgiving and worship to Him? Are we willing to be perceived or looked at as a crazy person in terms of praising, worshiping and lifting the Lord high in our lives? Or do we still think of our pride and how others will perceive us and etc? Let us learn to be like David who is honest before the Lord and the people. Let us not wear masks or trying to cover up or suppress the joy, praise and worship just because we are afraid of what others might say or think. Let us lift the Lord higher than our pride, higher than our honour. Isn't what the Lord will say or think far more precious and meaningful than what others might say or think? Therefore, let us let go of all things that hinders us from praising and worshiping the Lord with all of our soul, strength, heart and mind. Blessed be the Lord who is worthy to be praised!
Pembacaan Alkitab: 1Tawarikh 15-16
Daud membawa Tabut Allah masuk ke Yerusalem, ke kota Daud, dan di sana ia penuh dengan nyanyian, tarian, sukacita yang melimpah. Ketika Tabut Allah itu masuk, Daud dan seluruh umat Israel bersorak-sorai, menaikkan pujian, penyembahan, tarian, musik, dan memberikan persembahan kepada Tuhan. Khususnya, Daud, yang adalah raja, tetapi ia tidak memperdulikan jabatannya di hadapan Tuhan dan ia menari-nari di hadapan Tuhan dan rakyat sedemikian rupa hingga Mikhal memandang rendah Daud. Sungguh hati Daud terhadap Tuhan itu tulus, murni dan penuh dengan hormat dan pujian.
Apakah kita memiliki apa yang Daud miliki? Apakah kita mau miliki apa yang Daud miliki? Apakah kita begitu mengasihi, menghormati dan memuji Tuhan sehingga dengan adanya Tuhan dalam kehidupan kita, kita penuh dengan pujian, ucapan syukur, dan penyembahan kepada Tuhan? Apakah kita rela dianggap seperti orang gila dalam hal memuji, menyembah dan meninggkan Tuhan dalam hidup kita? Ataukah kita masih memikirkan harga diri kita, bagaimana orang akan memandang kita dan sebagainya? Marilah kita belajar seperti Daud yang jujur, di hadapan Tuhan dan orang-orang. Marilah kita tidak memakai topeng ataupun menutup-tutupi atau menekan sukacita, pujian dan penyembahan kita hanya karena kita takut akan apa yang orang akan katakan nanti. Biarlah kita tinggikan Tuhan melebihi harga diri kita, melebihi martabat diri kita sendiri. Bukankah apa yang Tuhan akan katakan kepada kita dan pikir tentang kita jauh lebih berharga daripada kata-kata atau pandangan orang-orang di dunai ini? Maka dari itu, biarlah kita melepaskan segala hal yang membatasi kita untuk memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap jiwa, kekuatan, hati dan pikiran kita. Terpujilah Tuhan Allah yang layak dipuji!
English:
Bible Reading: 1Chronicles 15-16
David brought the Ark of the Lord into Jerusalem, the city of David and there he was full of singing, dancing, and abundance of joy. When the Ark of the Lord enters, David and all the Israelites lift a shout of praise, worship, dancing, music and offer sacrifices to the Lord. Especially David, who was king, but he did not care for his position in front of the Lord and he danced before the Lord and the people such that Michal despised him. Truly the heart of David towards God is pure, sincere and full of honour and praise.
Do we have what David had? Do we want to have what David had? Do we love, honour and praise God so much that with God in our lives, we are full of praise, thanksgiving and worship to Him? Are we willing to be perceived or looked at as a crazy person in terms of praising, worshiping and lifting the Lord high in our lives? Or do we still think of our pride and how others will perceive us and etc? Let us learn to be like David who is honest before the Lord and the people. Let us not wear masks or trying to cover up or suppress the joy, praise and worship just because we are afraid of what others might say or think. Let us lift the Lord higher than our pride, higher than our honour. Isn't what the Lord will say or think far more precious and meaningful than what others might say or think? Therefore, let us let go of all things that hinders us from praising and worshiping the Lord with all of our soul, strength, heart and mind. Blessed be the Lord who is worthy to be praised!
Tuesday, December 6, 2011
Jalan Tuhan | The Path of God
Indo:
Pembacaan Alkitab: 1Tawarikh 13-14
Kita melihat kembali akan bagaimana dashyatnya Tuhan memimpin Daud dalam memenangkan peperangan-peperangan yang ia hadapi. Dari peperangannya melawan orang Filistin, kita dapat lihat bahwa Daud bertanya dahulu kepada Tuhan sebelum ia pergi menyerang. Daud meminta petunjuk Tuhan dan jalan Tuhan, sebab ia tahu bahwa Tuhan telah merencanakan segalanya dan menentukan jalannya, dan bila ia taat, maka ia akan melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan . Dan kita lihat bahwa ketika Daud taat kepada Tuhan, ia memukul kalah orang Filistin 2 kali dengan cara yang berbeda walaupun di tempat yang sama. Sungguh Tuhan itu luar biasa.
Marilah kita belajar seperti Daud yang bertanya dan meminta petunjuk Tuhan dalam langkah hidupnya. Tetapi janganlah kita hanya meminta petunjuk, tetapi biarlah kita benar-benar menyerahkan seluruh kehidupan kita di tangan Tuhan, dan mau taat dan setia mengikuti jalan yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita. Kita tahu bahwa Tuhan memiliki rencana bagi kita dan ada jalan Tuhan yang perlu kita ikuti, tetapi seringkali kita tidak mau mencari tahu apa jalan itu atau kita sudah memilih jalan kita sendiri sehingga apapun yang Tuhan tunjukkan kepada kita, kita tidak mau mengikutinya. Marilah kita benar-benar meletakkan dan melepaskan segala pemikiran, jalan dan rencana kita kepada Tuhan, sehingga ketika kita meminta petunjuk, hati dan pikiran kita terbuka akan jawaban-Nya dan tidak tertutupi oleh segala apa yang telah ktia tentukan atau pikirkan. Biarlah kita belajar untuk benar-benar berserah dan mencari jalan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan kita, seperti Daud.
English:
Bible Reading: 1Chronicles 13-14
We can see again of how the Lord led David with a mighty hand to win the battles he fought. From his battle against the Philistines, we can see that David ask God before he went to battle. David ask for guidance and the way of God, because he knows that the Lord had planned everything and has set the path, and if he is obedient, then he will see the glory of the Lord be revealed. And we can see that when David obeyed the Lord, he defeated the Philistines twice with a different method, though at the same place. Truly the Lord is amazing.
Let us learn to be like David who asks for the Lord's guidance in the steps he take in his life. But do not just ask, but let us also really surrender all of our lives in the hands of the Lord and want to obey and be faithful to follow the path He has shown to us. We know that the Lord has plans for us and there is a path of God that we need to follow, but may times, we do not want to find out what that path is or that we have chosen a path for ourselves that whatever the Lord shows to us, we do not want to follow. Let us really lay down and let go of all our mindset, paths and plans to the Lord, so that when we ask for guidance, our hearts and minds will be open to His answers and will not be closed or hindered by what we have decided upon or by our mindset. Let us learn to really surrender and seek the path of God in every step of our lives, like David did.
Pembacaan Alkitab: 1Tawarikh 13-14
Kita melihat kembali akan bagaimana dashyatnya Tuhan memimpin Daud dalam memenangkan peperangan-peperangan yang ia hadapi. Dari peperangannya melawan orang Filistin, kita dapat lihat bahwa Daud bertanya dahulu kepada Tuhan sebelum ia pergi menyerang. Daud meminta petunjuk Tuhan dan jalan Tuhan, sebab ia tahu bahwa Tuhan telah merencanakan segalanya dan menentukan jalannya, dan bila ia taat, maka ia akan melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan . Dan kita lihat bahwa ketika Daud taat kepada Tuhan, ia memukul kalah orang Filistin 2 kali dengan cara yang berbeda walaupun di tempat yang sama. Sungguh Tuhan itu luar biasa.
Marilah kita belajar seperti Daud yang bertanya dan meminta petunjuk Tuhan dalam langkah hidupnya. Tetapi janganlah kita hanya meminta petunjuk, tetapi biarlah kita benar-benar menyerahkan seluruh kehidupan kita di tangan Tuhan, dan mau taat dan setia mengikuti jalan yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita. Kita tahu bahwa Tuhan memiliki rencana bagi kita dan ada jalan Tuhan yang perlu kita ikuti, tetapi seringkali kita tidak mau mencari tahu apa jalan itu atau kita sudah memilih jalan kita sendiri sehingga apapun yang Tuhan tunjukkan kepada kita, kita tidak mau mengikutinya. Marilah kita benar-benar meletakkan dan melepaskan segala pemikiran, jalan dan rencana kita kepada Tuhan, sehingga ketika kita meminta petunjuk, hati dan pikiran kita terbuka akan jawaban-Nya dan tidak tertutupi oleh segala apa yang telah ktia tentukan atau pikirkan. Biarlah kita belajar untuk benar-benar berserah dan mencari jalan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan kita, seperti Daud.
English:
Bible Reading: 1Chronicles 13-14
We can see again of how the Lord led David with a mighty hand to win the battles he fought. From his battle against the Philistines, we can see that David ask God before he went to battle. David ask for guidance and the way of God, because he knows that the Lord had planned everything and has set the path, and if he is obedient, then he will see the glory of the Lord be revealed. And we can see that when David obeyed the Lord, he defeated the Philistines twice with a different method, though at the same place. Truly the Lord is amazing.
Let us learn to be like David who asks for the Lord's guidance in the steps he take in his life. But do not just ask, but let us also really surrender all of our lives in the hands of the Lord and want to obey and be faithful to follow the path He has shown to us. We know that the Lord has plans for us and there is a path of God that we need to follow, but may times, we do not want to find out what that path is or that we have chosen a path for ourselves that whatever the Lord shows to us, we do not want to follow. Let us really lay down and let go of all our mindset, paths and plans to the Lord, so that when we ask for guidance, our hearts and minds will be open to His answers and will not be closed or hindered by what we have decided upon or by our mindset. Let us learn to really surrender and seek the path of God in every step of our lives, like David did.
Subscribe to:
Posts (Atom)