Saturday, January 14, 2012

Kuasa Dari Tuhan | Power From The Lord

Indo:

Pembacaan Alkitab: Yohanes 19

Pilatus berkata kepada Yesus bahwa ia memiliki kuasa untuk membebaskan Yesus dan menyalibkan Yesus. Tetapi Yesus berkata kepadanya bahwa ia tidak memiliki kuasa apapun kalau kuasa itu tidak diberikan kepadanya dari atas, yakni dari Tuhan sendiri. Yesus dengan jelas berkata bahwa tidak ada kuasa yang dimiliki seseorang bila bukan Tuhan yang berikan kepadanya.

Jadi, kuasa yang kita miliki di dalam kehidupan kita, semuanya itu atas seijin dan pemberian Tuhan. Kuasa di sini lebih condong akan kuasa yang kita miliki di posisi di mana kita berada. Bila kita adalah seorang pemimpin, tentu kuasa yang kita miliki melebihi mereka yang kita pimpin. Jadi, Tuhan berkata bahwa posisi yang kita miliki ini, baik di dalam rumah tangga, keluarga, pekerjaan atau gereja, semua itu adalah pemberian Tuhan. Dan bila Tuhan memberikannya kepada kita, bukanlah dengan sembarangan, tetapi Tuhan telah mempercayakannya kepada kita untuk dipakai bagi kemuliaan-Nya.

Oleh sebab itu, apapun posisi kita di dalam aspek apapun di kehdiupan kita, biarlah kita bersandar dan mencari Tuhan agar kita mengenal apa yang Tuhan ingin kita lakukan bagi kemuliaan-Nya dengan posisi dan kuasa yang Tuhan berikan kepada kita.


English:

Bible Reading: John 19


Pilate told Jesus that he has the power to free and to crucify Jesus. But Jesus said to him that he has no power unless that power was given from above, that is from the Lord Himself. Jesus clearly says that there is no power that one has that is not because the Lord who gave it to that person.

So the power that we have in our lives, all of it are given by the Lord. Power here talks about the power that comes with position. If we are a leader, of course we have more power than those whom we leads. So the Lord is saying that that the position that we have, may it be in our household, family, work or church are all given by the Lord. And if the Lord gives it to us, it is not without purpose, but the Lord has entrusted it to us to be used for His glory.

Therefore, whatever position we have in whatever aspect of our lives, let us rely and seek the Lord so that we know what the Lord wants us to do for His glory through the position and power that He gave to us.

Blessings,

Maruli Saputra

Friday, January 13, 2012

Tegar Tengkuk & Keras Hati | Stiffneck & Hardened Heart

Indo:

Pembacaan Alkitab: 2Tawarikh 34-36

Kehancuran daripada kerajaan Yehuda dan Israel adalah ketegar-tengkukan mereka dan kekerasan hati mereka terhadap teguran dan ajaran Tuhan. Tuhan banyak mengirimkan hamba-hamba-Nya untuk menegur, menasihati dan membawa mereka kembali kepada jalan Tuhan yang benar, tetapi mereka tetap tegar tengkuk, keras kepala, keras hati, tidak mau di ajar dan tidak mau diubah, sehingga akhirnya seluruh umat Israel masuk ke dalam pembuangan dan penjajahan raja Persia.

Kita dapat belajar dari pengalaman bangsa Israel sehingga kita tidak tegar tengkuik dan keras hati terhadap Tuhan dan ajaran-Nya. Biarlah saat ini kita periksa kehidupan kita masing-masing. Adakah ketegar-tengkukan atau kekerasan hati di dalam kehidupan kita? Misalnya, bila kita mendengarkan firman yang menegur, apakah kita langsung introspeksi diri kita ataukah kita langsung memikirkan bahwa teguran ini cocok untuk orang lain yang kita kenal? Bila kita mendengarkan ajaran dari Firman Tuhan, apakah kita menerima dan mulai melihat apa yang pelru kita buang dan apa yang masih dapat kita perbaiki dan bangun, ataukah kita hanya sekedar menganggap ajaran itu bagus dan tidak mengaplikasikan kepada diri kita sendiri? Sebagai manusia, kita memiliki kecondongan untuk menimpakan kesalahan kita kepada orang lain dan mengalihkan perhatian kepada orang lain dalam hal teguran. Untuk itu, marilah kita benar-benar introspeksi diri kita dan marilah kita ingat bahwa setiap Firman yang kita dengar, bukanlah dengan kebetulan kita dengar, tetapi Tuhan berbicara kepada kita untuk mengubah, mengajar, menasihati dan menegur kita. Hanya bagaimana kita menanggapinya itulah bagian kita.

Oleh karena itu, marilah kita buang ketegar-tengkukan dan kekerasan hati yang ada di dalam hidup kita. Marilah kita terima Firman Tuhan untuk diri kita, untuk mengubah, mengajar, menasihati dan menegur kita lebih dahulu, baru kita bagikan juga kepada orang-orang di sekitar kita sebagai kesaksian yang hidup oleh karena kita telah mengalaminya atau kita sedang menjalaninya. Terpujilah Tuhan Allah yang selalu setia kepada umat-Nya.

English:

Bible Reading: 2Chronicles 34-36

The fall of the kingdoms of Judah and Israel are because of their stiffnecked and hardened heart attitude towards the rebuke and teaching of the Lord. The Lord has sent many of His servant to rebuke, advice and bring them back to the righteous path of the Lord, but they are stiffnecked, hard-headed, hard-hearted, do not want to be taught and changed, that all Israelites are casts out and were under oppression.

We can learn from the experience of the Israelites so that we are not stiffneck and hard-hearted towards the Lord and His teaching. Let us check our lives right now. Is there any stiffneck attitude or hardened hearts in our lives? For example, if we hear the Word of God that rebukes and corrects, do we immediately introspect our lives or do we immediately think of how this rebuke is good for others whom we know? If we listen to the teaching of the Lord, do we receive it and start to see what we need to throw away and what can be improved and edified, or do we just consider it as a good teaching but do not apply it to our lives? As men, we have the tendency to place our fault on others and to change direction or attention to others in terms of rebuke and correction. Therefore, let us really introspect ourselves and let us remember that every Word of God that we hear, are not by coincidence, but the Lord is speaking to us to change, teach, advise and rebuke us. How to respond to it, is our part.

Therefore, let us throw away all stiffneck and hard-hearted attitude in our lives. Let us receive the Word of God for ourselves to change, teach, advise and rebuke us first, then we can share it to others around us as a testimony because we have experience it or are in the process of walking on it. Blessed be the Lord God who is faithful to His people!

Thursday, January 12, 2012

Kesombongan & Keangkuhan | Pride & Boastfulness

Indo:

Pembacaan Alkitab: 2Tawarikh 32-33

Kejatuhan utama dari raja-raja dan banyak orang adalah kesombongan dan keangkuhan oleh karena berkat yang diterima dari Tuhan. Raja Hizkia adalah salah satu contoh dari banyak orang yang jatuh karena sombong dan angkuh. Oleh karena kekayaan, kejayaan dan keagungan kerajaannya yang diberikan oleh Tuhan, Hizkia lupa bahwa Tuhanlah yang memberikan semuanya itu kepadanya dan ia mulai membanggakan dan menyombongkan dirinya serta kekuatannya sendiri.

Untuk itu sangatlah penting untuk kita belajar dari kesalahan-kesalahan kebanyakan orang. Bila kita mengalami kebaikan Tuhan, anugrah, berkat dan kemenangan dari Tuhan, ingatlah bahwa semua itu adalah dari Tuhan dan bukan karena kekuatan kita sendiri. Ingatlah bahwa yang kita alami dan miliki adalah karena anugrah dan adalah pemberian dengan cuma-cuma dari Tuhan. Bila Tuhan ingin mengambilnya kembali, Ia dapat mengambilnya dengan sekejap. Oleh karena itu, marilah kita selalu rendahkan hati kita setiap hari di hadapan Tuhan, buang semua rasa sombong dan angkuh yang masih kita miliki, dalam hal apapun di kehidupan kita. Jangan sampai sedikitpun dari kesombongan itu masih ada di dalam kehidupan kita, tetapi biarlah kita hidup dengan mengingat bahwa semua karena Tuhan dan anugrah-Nya dan bukan karena kita.

English:

Bible Reading: 2Chronicles 32-33

The main fall of many kings and men are pride and boastfulness because of the blessings which were received from the Lord. King Hezekiah is one of the examples of many men who fell because of pride and boastfulness. Because of the riches, fame and glory of his kingdom which was given by the Lord, Hezekiah forgot that the Lord is the one who gave it all to him and he started to become proud of himself and boasts of himself and his own strength.

Therefore, it is important for us to learn from the mistakes of many people. If we experience God's goodness, grace, blessings and victories, remember that all of it are from the Lord and are not of our own strength.  Remember that what we experience and have are because of grace and are freely given to us by the Lord. If the Lord wants to take it all back, He can take it in a flash. Therefore, let us always humble ourselves before the Lord every day, throw away all pride and boastfulness that we still have in any aspect of our lives. Do not let a little bit of that pride and boastfulness to have a place in our lives, but let us live remembering that all is because of the Lord and His grace and not because of us.

Wednesday, January 11, 2012

Hati Yang Rela Berkoirban | Heart That Is Willing To Sacrifice

Indo:

Pembacaan Alkitab: Yohanes 18

Di sini dikatakan bahwa lebih baik satu orang mati untuk seluruh bangsa. Dan inilah yang Yesus jalani, yakni bahwa Ia mati untuk umat manusia. Tuhan tahu bahwa manusia tidak dapat selamat bila Ia sendiri tidak turun dan menyelamatkan manusia. Inilah kasih yang Yesus miliki dan yang Ia ingin kita miliki juga. Bila kita lihat di pasal sebelumnya bahwa doa Yesus adalah agar hidup kita memancarkan hidup Yesus, maka kita juga memerlukan kasih Yesus ini. Yakni, kasih yang rela berkorban bagi sesama kita agar mereka dapat menerima keselamatan Kristus.

Salah satu contohnya adalah rasul Paulus yang rela menukarkan keselamatannya untuk keselamatan orang banyak. Mungkin kita tidak akan sampai harus mati untuk memberitakan keselamatan, tetapi selalu ada harga yang dibayar. Pertanyaannya adalah, apakah kita memiliki kasih Kristus di dalam kita sehingga kita rela berkorban dalam hal apapun agar orang-orang dapat menerima keselamatan Kristus? Mungkin yang perlu kita korbankan adalah waktu, tenaga, uang, barang milik kita pribadi dan sebagainya. Yang Tuhan inginkan adalah hati yang penuh dengan kasih yang rela berkorban seperti hati Tuhan Yesus Kristus. Jadi, mari kita periksa hati kita, apakah kita hidup untuk diri kita sendiri ataukah kita hidup untuk Tuhan Yesus Kristus?


English:

Bible Reading: John 18

It is said here that it is better for one man to die for the whole nation. And this is what Jesus did, He died for the whole mankind. The Lord knows that men cannot be saved unless He Himself comes down and saved mankind. This is the love that Jesus has and the love that He wants us to have. If we look at the previous chapter that Jesus' prayer was for our lives to reflect His life, then we also need to reflect His love. That is, sacrificial love, willing to sacrifice for others to receive salvation of Jesus Christ.

One of the example is apostle Paul who is willing to sacrifice his own salvation for the salvation of others. Maybe we won't have to die to preach salvation, but there are always prices to pay. The question is, do we have the love of Christ in us that we are willing to sacrifice anything for others to receive Christ's salvation? Maybe what we need to sacrifice are time, effort, money, our belongings and others. What the Lord wants is a heart that is full of sacrificial love like the hrart of the Lord Jesus Christ. So, let us check our hearts, do we live for ourselves or do we live for the Lord Jesus Christ?
Blessings,

Maruli Saputra

Tuesday, January 10, 2012

Berkat Yang Mengalir | Blessings That Flows

Indo:

Pembacaan Alkitab: 2Tawarikh 30-31

Raja Hizkia bukan hanya membawa bangsa Yehuda untuk kembali kepada Tuhan, tetapi ia juga mengajak seluruh Israel untuk bersama-sama kembali mencari Tuhan. Tentunya ada yang menanggapinya dan ada yang tidak. Mereka yang menanggapinya pergi dan melakukan Firman Tuhan. Mereka membuang segala yang kotor dan najis dan mereka melakukan apa yang difirmankan Tuhan. Ketika umat Tuhan mulai melakukan Firman Tuhan dan memberikan persembahan sulung, perpuluhan dan sebagainya, berkat Tuhan mengalir sehingga para imam dan orang Lewi pun berkelimpahan oleh karena persembahan-persembahan itu.

Dari sini kita dapat melihat bahwa berkat itu mengikuti mereka yang mencari dan hidup sesuai dengan dan melakukan Firman Tuhan. Bagi mereka yang mencari berkat, maka berkat itu tidak akan didapatkan, tetapi bagi mereka yang mencari Tuhan, berkat itu akan mengikuti mereka. Sebab Tuhan adalah sumber segalanya, ketika kita mencari, berjalan sesuai dengan Firman-Nya dan tinggal di dalam Dia, maka kita akan mengalami Tuhan di dalam seluruh aspek kehidupan kita. Bukan hanya itu saja, tetapi kita juga dapat belajar dari Hizkia untuk mengajak saudara-saudara dan teman-teman kita untuk sama-sama mencari Tuhan dan mengenal-Nya. Ada yang akan menertawakan, mengolok, tetapi akan ada juga mereka yang mau menerima berita itu. Jadi, biarlah kita hidup mencari Tuhan dan beritakan Firman Tuhan kepada mereka yang di sekitar kita dengan begitu berkat akan mengalir dengan sendirinya tanpa kita cari-cari.

English:

Bible Reading: 2Chronicles 30-31

King Hezekiah not only brought Judah to come back to the Lord, but he also asked the whole Israelites to come back to the Lord. Some received it well, some don't. They who received it well, went and did the Word of God. They throw away all the unclean things and they did what was commanded by the Lord. When the people of the Lord starts to do the Word of God and starts to give first fruits offerings, tithes, and others, the blessings of the Lord flows that the priests and the Levites were blessed abundantly because of those offerings.

From here we can see that blessings follows those who seeks and lives according to and doing the Word of God. For them who seeks blessings, then they would not receive blessings, but for those who seeks the Lord, blessings will follow. Because the Lord is the source of all, when we seek, walk according to His Word and lives in Him, then we will experience the Lord in all aspects of our lives. Not only that, but we can also learn from Hezekiah to bring our brethren and friends to also seek the Lord and know Him. Some may mock, laugh, but some will receive it. SO, let us live by seeking the Lord and sharing the Word to them around us, that way blessings will flow by itself without us seeking for it.






Monday, January 9, 2012

Doa Yesus | The Prayer Of Jesus

Indo:

Pembacaan Alkitab: Yohanes 17

Bila kita perhatikan, Tuhan Yesus sendiri berdoa bagi kita semua di hadapan Bapa. Tuhan berdoa bagi kita yang mengenal Dia, dan bagi mereka yang akan percaya oleh karena pemberitaan kita. Dan dapat kita lihat bahwa doa Tuhan Yesus adalah agar kita hidup di dalam Dia seperti Bapa di dalam Yesus, agar kemuliaan-Nya terpancar seperti kemuliaan Bapa di dalam Yesus, agar kasih-Nya terpancar seperti kasih Bapa di dalam Yesus dan agar kita menjadi satu dengan Bapa seperti Yesus dan Bapa adalah satu. Dapat disimpulkan bahwa Tuhan Yesus berdoa agar kita menjadi serupa dengan-Nya. Inilah kerinduan Tuhan Yesus di dalam hidup kita.

Oleh karena itu, biarlah kita terus mencari wajah Yesus, membaca, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan agar kita makin mengenal Tuhan kita dan untuk rajin dan tekun berdoa, bersaat teduh untuk membangun hubungan yang intim dengan Tuhan Yesus Kristus melalui Roh Kudus yang memimpin dan membukakan pewahyuan, sehingga kita makin mengenal Tuhan kita. Agar kita makin kecil dan Tuhan makin besar dan agar hidup kita makin diubahkan seperti kehidupan Yesus. Jadi, marilah kita berjalan menuju kesatuan bersama Tuhan Yesus Kristus seperti yang dirindukan-Nya.


English:

Bible Reading: John 17

If we take notice, the Lord Jesus Himself prays for us before the Father. The Lord prayed for us who knows Him and for those who will come to know Him because of our testimonies. And we can see that the prayer of the Lord Jesus is for us to live in Him as He lives in the Father, for His glory to shine through as the Father's glory in Jesus, for His love to be reflected in us as the Father's love in Jesus and for us to become one with the Father as Jesus and the Father are one. It can be concluded that the Lord Jesus prayed so that we would become like Him. This is His desire in us.

Therefore, let us keep on seeking His face, reading, meditating and doing the Word of God so that we may come to know the Lord more and for us to diligently pray, have a quiet time and to build a relationship with the Lord Jesus Christ through theguidance and revelations of the Holy Spirit, so that we may know our Lord. So that we may become smaller and Him bigger and so that our lives may be changed like the life of Jesus. So, let us walk towards unity with the Lord Jesus Christ as He desires.

Blessings,

Maruli Saputra

Sunday, January 8, 2012

Pilihan Kita | Our Choice

Indo:

Pembacaan Alkitab: 2Tawarikh 28-29

Raja Ahas dan raja Hizkia adalah sepasang ayah dan anak. Tetapi sikap dan cara mereka menjalani kerajaan Yehuda sangatlah berbeda. Raja Ahas menyembah berhala, meninggalkan Tuhan dan bahkan sampai mengorbankan anaknya sendiri sebagai korban bakaran. Sedangkan raja Hizkia hidup sesuai dengan Firman Tuhan, membuang segala yang jahat dari Yehuda dan melakukan pembersihan serta pengudusan rumah dan umat Tuhan. Kedua raja ini berlaku sangat berbeda padahal mereka memiliki sejarah dan pengetahuan yang sama akan apa yang Tuhan telah lakukan bagi umat-Nya.

Jadi apa yang membuat mereka dapat berjalan di dua arah yang begitu berbeda? Semua ini adalah pilihan masing-masing orang. Bila kita telah melihat dan mendengar banyak akan perbedaan antara hidup bersama Tuhan dan hidup tidak bersama dengan Tuhan, marilah kita benar-benar ambil keputusan untuk hidup bersama Tuhan. Janganlah kita setengah-setengah, tapi biarlah kita belajar seperti raja Hizkia yang dengan sungguh-sungguh mencari Tuhan. Marilah kita bersihkan kehidupan kita dari segala hal yang masih keji atau tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Marilah kita benar-benar buang sampai tidak ada lagi berhala di dalam hidup kita ini. Sebab bila kita tidak sungguh-sungguh dan tidak membuang semua yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, maka percumalah, sebab dosa tetap dosa dan dosalah yang memisahkan kita dengan Tuhan. Oleh karena itu, biarlah kita terus memeriksa kehidupan kita akan hal-hal yang masih perlu kita buang dan mintalah agar Roh Kudus yang menunjukkan pada kita hal-hal yang masih tersembunyi yang perlu kita buang. Hingga kita benar-benar membersihkan hidup kita seperti Hizkia membersihkan rumah Tuhan.

Jadi, marilah kita memilih untuk sungguh-sungguh kepada Tuhan seperti raja Hizkia.


English:

Bible Reading: 2Chronicles 28-29


King Ahaz and king Hezekiah are father and son. But their attitude and way of ruling are different. King Ahaz worships idols, left the Lord and even sacrificed his own children as burnt offering. While king Hezekiah lived according to the Word of God, throwing away all that is evil from Judah and did a cleansing and sanctification of the house of the Lord and His people. Both of these kings act differently even though they have the same history and knowledge of what the Lord did for His people.

So what made them walk in two different directions? All of this is of their own personal choice. If we have heard and seen many about the difference between living with God and without, let us take a firm choice to live with God. Do not be half-hearted, but let us learn like Hezekiah who earnestly sought God. Let us cleanse our lives from all things which are evil or are not according to the Word of God. Let us really throw it that there are no longer idols in our lives. Because if not, it is useless, for sin is still sin and sin is the one that separates us from God. Therefore let us check our lives of the things we still need to throw away in our lives and ask the Holy Spirit to show us of the hidden things we still need to throw away. So that our lives will be cleansed completely like the house of the Lord which was cleansed completely under Hezekiah's rule.
So, let us choose to earnestly and whole-heartedly seek God just like king Hezekiah.

Blessings,

Maruli Saputra